Jumat 02 Feb 2018 14:28 WIB

Keunikan Arsitektur Masjid Agung Sumenep

Masjid ini memadukan arsitektur khas Cina.

Masjid Agung Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Foto: Screen Capture Youtube
Masjid Agung Sumenep, Madura, Jawa Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berkunjung ke Pulau Madura tak akan lengkap jika tidak singgah ke Sumenep. Di tempat ini, Anda bisa menemukan masjid bersejarah dengan gaya arsitekturnya yang cukup unik.

Masjid itu bernama Masjid Agung Sumenep. Masjid ini memiliki gerbang utama yang menjadi landmark bagi Pulau Madura. Gerbang tersebut memiliki bentuk layaknya sebuah kastil. Warna yang mendominasinya adalah paduan warna kuning dan putih. Dari bentuk gerbang tersebut terlintas adanya pengaruh gaya arsitektur Cina, India, dan corak lokal.

photo
Masjid Agung Sumenep yang bergaya arsitektur Cina, di Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Khusus arsitektur gaya Cina, hal ini tecermin dari pilihan warna kuning. Dalam sebuah literatur disebut, kuning itu merupakan warna kerajaan pada kekaisaran Cina. Pengaruh yang begitu dominan tersebut tak lepas juga dari sang arsitek yang ternyata berdarah Cina. Namanya Lauw Piango. Ia adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang menjadi satu dari enam orang Cina yang pertama menetap di Sumenep.

Mengintip video tentang Masjid Sumenep yang diunggah di laman Youtube, masjid ini memiliki atap berbentuk limas persegi empat. Atap limas bertumpang dua. Model atap semacam ini menjadi salah satu ciri dari gaya arsitektur Jawa yang tecermin melalui atap joglo. Pada bagian ujung atap tersebut terpasang mastaka berbentuk tiga bulatan yang menjadi identitas sebuah masjid lokal.

Layaknya masjid tua di negeri ini, bagian selasar atau arcade masjid dibuat secara luas. Di antara tiang-tiang penghubungnya itu, dibuatkanlah bentuk lengkungan layaknya masjid-masjid yang ada di wilayah India.

photo
Sisi kanan bangunan Masjid Agung Sumenep, Madura, Jawa Timur. Sumber: Simas Kemenag

Sementara, pengaruh budaya lokal tecermin dari ukiran yang menghiasi sepuluh bagian jendela dan bagian sembilan pintu besar. Bagian jendela dan pintu tersebut terbuat dari material kayu. Ukiran-ukiran yang menghiasi kayu ini mengambil bentuk flora. Ini dapat dimaklumi karena dalam Islam sangat tidak dianjurkan untuk menempatkan bentuk binatang ataupun manusia di dalam masjid.

Ukiran bunga ini dihiasi dengan pilihan warna hijau dan kuning. Dalam sebuah situs ditulis ukiran yang ada di pintu utama masjid ini sangat kental pengaruh budaya Cina. Situs tersebut menulis, ukiran yang tersaji pada Masjid Agung Sumenep ini memiliki kemiripan dengan ukiran yang jumpai di daerah Palembang yang notabene dipengaruhi cukup kuat oleh budaya Cina.

sumber : Dialog Jumat Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement