Senin 29 Jan 2018 18:53 WIB

MUI: Kampanye LGBT, Musuh Umat Manusia

Kampanye LGBT bisa melawan karakter bangsa.

Rep: Novita Intan/ Red: Agus Yulianto
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis
Foto: ROL/Fakhtar Khairon Lubis
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Perilaku lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) akan menghilangkan proses regenerasi. Semua agama melarangnya karena bertentangan dengan fitrah manusia dan makhluk hidup yang saling berpasangan.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia KH Cholil Nafis mengatakan, semua tradisi di Indonesia tak ada yang mengakui LGBT, dan celakanya akan merusak jati diri anak bangsa. "LGBT tidak mungkin memperbanyak karena tidak memiliki keturunan. Kita harus bisa melawan kampanye LGBT karena LGBT itu tidak bisa disahkan dari mana semua agama melarang," ujarnya kepada Republika.co.id, Jakarta, Senin (29/1).

Menurutnya, masyarakat atau pemangku kepentingan lainnya harus bisa menghentikan proyek kampanye LGBT. Pada dasarnya, LGBT itu normal, bagian dari hak asasi, kebebasan memilik saluran seksual.

"Kampanye LGBT bisa melawan karakter bangsa, tidak jelas mana laki dan perempuan dan secara nyata HIV AIDS karena hubungan tidak normal, LGBT terbawa lifestyle, opini, pergaulan," ungkapnya.

Kendati demikian, ia meminta masyarakat untuk tidak mengkriminalkan perilaku LGBT. Hal yang perlu dilakukan dengan bimbingan dan arahan. Tujuannya, agar kelainan perilaku tersebut tidak terjadi sepanjang sejarah umat manusia.

"LGBT muncul ada dua karena penyakit dan proyek kampanye. Penyakit cenderung mereka lahir berbeda, tinggal obati kita bimbing. Kita lawan proyek kampanye LGBT, bagi orang kena LGBT tidak bisa keluar maka bimbing keluar LGBT, mereka itu sadar kelainan juga kok, kita bimbing dan rangkul," ungkapnya.

Di sisi lain, kewajiban para orang tua untuk memberikan pendidikan identitas seks kepada anak-anak mereka. Tujuannya agar setiap anak yang lahir, tumbuh dan berkembang sesuai dengan identitas gendernya.

"Sedari dini anak-anak diluruskan identitasnya, anak laki-laki bertingkah laku dan sifatnya maskulin. Sedang perempuan berprilaku sebagaimana wanita feminim," terang dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement