Jumat 29 Dec 2017 06:16 WIB

Habib Bin Zaid tak Tergoda Rayuan Nabi Palsu

Hijrah, ilustrasi
Hijrah, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pada tahun kesembilan Hijriyah banyak suku di Semenanjung Arab menemui Rasulullah. Banyak dari mereka memeluk Islam karena kagum dengan ajaran tersebut. Salah satu yang mengagumi Islam adalah Musailimah yang dikenal sebagai utusan Bani Hanilab.

Setelah bertemu Rasulullah dia kembali ke kelompoknya. Musailimah kemudian mengaku sebagai nabi. Dia berdiri di hadapan orang-orang dan menyatakan dirinya sebagai utusan Tuhan untuk Bani Hanilab sama seperti Allah telah mengutus Muhammad bin Abdullah kepada orang Quraisy.

Ada yang mengikuti ajakan Musailimah. Ada juga yang menolak, kemudian bergabung dengan kelompok Muslim di Makkah dan Madinah. Seiring berjalannya waktu, pengikut Musailimah terus berkembang. Dia semakin mampu mengonsolidasikan masyarakat. Musailimah kemudian menjelma menjadi pemimpin yang dikagumi banyak orang.

Ketika kelompoknya semakin besar, dia memberanikan diri mengirim surat kepada Rasulullah.Surat itu dibawa oleh utusannya. "Dari Musailimah, utusan Allah kepada Muhammad, utusan Allah. Damai sejahtera bagi kamu.Saya siap untuk berbagi dengan Anda. Saya akan menguasai separuh wilayah dan Anda akan memiliki separuh lainnya."

Setelah surat itu dibacakan, Rasulullah kemudian membalas surat Musailimah sebagai berikut.

"Atas nama Tuhan, Menguntungkan, Yang Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah si penipu. Damai sejahtera siapapun yang mengikuti tuntunan.

Tuhan akan mewariskan bumi kepada siapa pun dari hamba-Nya yang Dia kehendaki dan kemenangan terakhir adalah bagi orang-orang yang berhati- hati dalam tugas mereka." Surat itu dibawa oleh utusan Musailimah.

Meski sudah dikirimi surat, Musailimah justru semakin gencar menyebarkan ajarannya.

Nabi berusaha mencegah Musailimah dengan mengirimkan surat lagi. Kali ini surat itu harus dibawa oleh orang yang memegang teguh Islam. Sosoknya harus yang berkomitmen dan tidak mudah dirayu apa pun. Rasulullah menilai, sosok tersebut adalah Habib.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement