Jumat 15 Dec 2017 08:15 WIB

Awal Mula Lahirnya Lembaga Keuangan Islam

Rep: dia/sya/berbagai sumber / Red: Agung Sasongko
zakat/ilustrasi
Foto: fokusislam.com
zakat/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jauh sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab telah dikenal sebagai pedagang yang sangat ulung. Mereka berdagang hingga ke berbagai negara di belahan dunia. Dari tanah Arab, mereka membawa dagangannya hingga ke Afrika, Asia Tengah, Asia Tenggara, hingga ke Eropa.

Di masa jahiliyah tersebut, sistem perdagangan (ekonomi) jauh dari prinsip-prinsip keadilan. Para pedagang berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memedulikan benar atau salah. Maka, ketika Islam datang, segala bentuk perdagangan yang merugikan dan bersifat judi (maysir), tidak jelas (gharar), dan berbunga (riba) dihapuskan. Sebab, hal itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin, berkeadilan, dan transparan.

Saat Muhammad mengikuti pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam, beliau telah mempraktikkan sistem perdagangan yang jujur sehingga bisa menghasilkan keuntungan yang baik dan tidak merugikan pihak pembeli. Sehingga, masyarakat senang melakukan perdagangan dengannya. Begitu juga ketika beliau turut membawa dagangan Siti Khadijah. Dengan sifatnya yang dikenal jujur (Al-Amin), barang dagangannya laku terjual.

Ketika Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul, beliau pun tetap melakukan sistem perdagangan yang jujur, transparan, terbuka, dan berkeadilan. Sistem perdagangan ini masih dilakukan secara pribadi dan kekeluargaan, belum melembaga dalam sebuah sistem yang terstruktur.

Karena itu, di zaman beliau belum ada sebuah lembaga keuangan Islam yang mengatur sistem perdagangan secara sistematis, kecuali selalu merujuk pada ajaran Alquran. Beliau senantiasa mempraktikkan sistem perdagangan dengan tujuan membantu kaum yang lemah (fakir miskin).

Semasa kepemimpinan Rasulullah, bila beliau mendapat amanah zakat ataupun sedekah dari umat Islam di pagi hari, selepas zuhur zakat dan sedekah itu sudah terbagi habis kepada kaum fakir miskin. Demikian juga dengan harta rampasan perang yang diperoleh kaum Muslim. Biasanya, setelah selesai peperangan, beliau sendiri yang membagikannya tanpa ada yang tersisa.

Sistem yang diterapkan Rasulullah SAW ini kemudian diteruskan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq RA hingga permulaan Khalifah Umar bin Khattab. Tetapi, dengan semakin luasnya kawasan yang dibebaskan dan daerah yang ditaklukkan, kekayaan dari rampasan perang juga bertambah, termasuk pemasukan dari kharaj dan jizyah (pajak). Semuanya masih diatur secara sangat sederhana.

Setiap negeri yang ditaklukkan, pihak Muslim mengadakan persetujuan dengan pihak yang ditaklukkan, berupa pembayaran jizyah sebesar dua dinar per kepala. Belum termasuk kharaj tanah yang harus dibayar para petani. Hasil kesepakatan yang didapatkan dari kharaj dan jizyah itu kemudian dibagikan untuk kepentingan umat Islam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement