Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jangan Berdoa Minta Mati, Ini Doa yang Diajarkan Nabi

Jumat 10 Nov 2017 11:33 WIB

Red: Irwan Kelana

Ustadz Taufiqurrohman SQ.

Ustadz Taufiqurrohman SQ.

Foto: Irwan Kelana/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Setiap manusia diberi cobaan oleh Allah. Itu sudah merupakan sunnatullah.

Dalam menghadapi ujian hidup, ada orang yang sabar dan ikhlas menjalaninya, ada pula yang lemah semangat, mengeluh, dan berputus asa.


Bahkan, ada orang yang merasa tidak tahan diuji Allah, lalu berdoa minta mati. Hal tersebut merupakan sesuatu yang dilarang dalam Islam.

“Rasulullah SAW melarang keras kita berdoa kepada Allah minta mati,” kata Ustaz Taufiqurrohman SQ saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/11) pagi.

Ustaz Taufiqurrohman lalu mengutip hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, “Jangan kamu minta mati kepada Allah karena masalah yang Allah berikan kepadamu, akan tetapi lebih baik engkau  berdoalah kepada Allah sebagai berikut, ‘Ya Allah, hidupkan aku selama Engkau izinkan aku hidup dalam keadaan yang  baik buat aku, dan wafatkanlah aku apabila Engkau kehendaki aku wafat dalam keadaan yang baik buat aku.”

"Sering-seringlah membaca doa ini, terutama setiap selesai shalat fardhu, baik sendiri maupun berjamaah atau menjadi imam," ujarnya.

Bicara umur, Taufiq menambahkan, bukan hanya berapa lama secara fisik (jumlah tahun), tapi yang lebih penting lagi adalah aspek manfaatnya. Ada orang yang umurnya relatif pendek, namun manfaatnya tetap dirasakan sampai berates-ratus tahun setelah kematiannya. Misalnya para ulama yang menulis kitab-kitab fiqih, hadits, tafsir dan sebagainya yang menjadi rujukan umat hingga saat ini, bahkan hingga hari kiamat.

Taufiq memberikan tamsil orang yang keberadaannya membawa manfaat dalam hidup dan kurang bermanfaat dengan beras pandan wangi Cianjur dan beras raskin. “Beras raskin belum tentu orang mau, sedangkan beras pandan wangi semua orang pasti mau. Orang yang diibaratkan beras pandan wangi adalah orang yang kehadirannya membawa berkah, selalu dirindukan, membawa maslahat  dan dia tidak ada, maka orang merasa kehilangan. Begitulah seharusnya kita menjadi seorang Muslim,” papar Taufiqurrohman.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA