Rabu 01 Nov 2017 22:45 WIB

Ilmuwan Muslim Tertarik Banyak Hal

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Ilmuwan Muslim (ilustrasi).
Foto: blogspot.com
Ilmuwan Muslim (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Egiptolog dari University College London, Dr Okasha El-Daly mengungkap banyak yang mengatakan ilmuwan Muslim atau Arab hanya mengembangkan ilmu yang sudah ada pada era Yunani. Ilmuwan Muslim juga disebut hanya tertarik pada ilmu praktikan dan aplikatif, seperti kedokteran, kimia, dan mekanika. Padahal, sejatinya ilmuwan Muslim tertarik dengan banyak hal, dengan jagat pengetahuan, apa pun itu.

Poin akhir yang amat penting adalah fakta bahwa para ilmuwan Muslim awal abad pertengahan sadar akan keterkaitan bahasa Mesir Kuno yang mereka sebut dengan Koptik Pertama dengan bahasa yang digunakan masyarakat Kristen Koptik Mesir kontemporer atau Koptik Kedua. Maka, Koptik adalah bahasa Mesir terakhir hasil pengembangan bahasa Mesir Kuno.

Masyarakat era ini berutang besar kepada ilmuwan egiptologi abad pertengahan yang khawatir akan kurangnya minat generasi setelah mereka untuk mempelajari Koptik. Kekhawatiran itu membuat mereka menyusun buku tata bahasa Koptik dalam bahasa Arab.

A Kircher menulis buku tata bahasa Koptik pertama dalam bahasa Latin di Barat setelah ia mengacu 40 literatur Arab yang dibawa dari Mesir. Ia menyebutkan, buku-buku yang ia jadikan rujukan dan bersyukur atas literatur Arab yang ia dapat.

Champollion pun didukung sumber-sumber Arab sehingga ia sampai pada kemampuan mengungkap dan memahami hieroglif secara lebih baik. Ilmuwa-nilmuwan seangkatannya tak bisa mencapai itu karena mereka kekurangan sumber dan tidak mampu berbahasa Arab, bahasa yang Champollion kuasai sebelum menuliskan karya-karyanya.

Maka, Dr El-Daly menyimpulkan, bicara soal preservasi ilmu pengetahuan Mesir Kuno, ilmuwan-ilmuwan Muslim tak cuma mewariskan salinan tentang berbagai monumen kuno yang sudah tidak lagi ada saat ini, tapi juga ilmu sains yang berkembang pada era Mesir Kuno.

Teori evolusi dan asal mula makhluk hidup sudah secara luas diakui rujukannya merupakan pemikiran ilmuwan Mesir Kuno. Sehingga, bila mempelajari teori Darwin, bisa jadi bangsa Mesir Kunolah yang berpikir soal teori evolusi. Dan, peradaban hari ini berutang pada ilmuwan Muslim yang telah mengungkap dan merekam hal itu.

Ilmuwan Muslim yang mempelajari pengetahuan bangsa Mesir Kuno menginterpretasikan kebudayaan kuno itu seribu tahun lalu. Namun, akurasi dan bobot karya mereka tidak kalah dibandingkan ilmuwan modern Barat hari ini.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi