Rabu 13 Sep 2017 19:45 WIB

Wajah Baru Muslim Jerman

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko
Muslim Jerman
Muslim Jerman

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Lonjakan gelombang migrasi Suriah diperkirakan akan membawa pergeseran proporsi demografis Muslim Jerman. Arus migrasi kali ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia Kedua.

Bersama pengungsi Afghanistan, Irak, dan negara-negara Muslim lainnya, Suriah menjadi kontingen terbesar. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 45 persen dari total migran. Masuknya sekian banyak pengungsi Suriah ini ditengarai akan menggoyang wajah Islam di Jerman, yang hingga kini telah didominasi oleh Turki.

Padahal 1960-an, komunitas Muslim Jerman didominasi oleh wajah-wajah Turki.  Muslim Turki merupakan komunitas Muslim terbesar di Jerman. Pada tahun 1960 hingga 1970-an, ribuan pekerja Turki datang ke Jerman seiring kebangkitan industri negara itu.

Setengah dari mereka akhirnya menetap dan membangun keluarga di Jerman. Dari 4 juta komunitas Muslim Jerman, sekitar 70 persen atau dua pertiganya berlatar belakang Turki. Meski sudah masuk generasi kedua dan ketiga, pengaruh budaya Turki masih sangat kuat sampai hari ini.

Turki juga membentuk komunitas-komunitas Muslim arus utama di Jerman. Lebih dari 900 masjid dikelola oleh Diyanet Isleri Turk Islam Birlig (DITIB), sebuah jaringan urusan agama Pemerintah Turki di Eropa. Selama lebih dari 30 tahun, imam biasanya dikirim langsung dari Ankara. Sering kali mereka tidak bisa berbahasa Jerman sehingga khotbah-khotbah disajikan dalam bahasa Turki. DITIB merupakan rekan utama Pemerintah Jerman dalam berbagai persoalan yang menyangkut agama terbesar ketiga di negara itu.

"Sekarang mereka harus membuka diri terhadap Muslim dari belahan dunia lain," demikian komentar pengamat Islam dari Bertelsmann Foundation, Yasemin El Menouar, tulis Saudi Gazette. Ledakan gelombang migrasi Muslim Suriah ditengarai akan mengubah peta demografi dan menampilkan wajah baru komunitas Muslim Jerman.

Lebih dari 161 ribu warga Suriah sekarang tinggal di Jerman. Jumlah ini diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi, menciptakan komunitas masyarakat Suriah terbesar di Eropa. Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Der Tagesspiegel, Kepala Dewan Pusat Muslim di Jerman, Aiman Mazyek, mengatakan, sebanyak dua kali lipat umat Islam mengalir ke masjid-masjid dalam sebulan terakhir.

Mengomentari revolusi demografi yang menyapu Jerman ini, Mazyek berujar, "Jumlah Muslim di Jerman akan meningkat secara signifikan." Pew Research Center juga mencatat, tingkat alami kenaikan populasi Muslim di Jerman berkisar 1,6 persen per tahun atau 77 ribu jiwa.

Berdasarkan proyeksi ini, populasi Muslim Jerman diperkirakan sebanyak 5,785 juta pada akhir 2015. Ada 5.068 ribu Muslim pada akhir 2014, ditambah 640 ribu migran yang telah tiba di Jerman, dikombinasikan dengan peningkatan alami sebesar 77 ribu jiwa. Jumlah ini berpotensi membentuk Jerman sebagai negara dengan populasi Muslim tertinggi di Eropa, lebih tinggi dari Prancis.

"Kami tiba-tiba memiliki 5 juta Muslim," kata Thomas Volk, seorang ahli Islam dari Konrad Adenauer Foundation, sebuah lembaga think tank yang berkaitan dengan Partai Merkel, Christian Democratic Union (CDU), dilansir dari Reuters. Kendati menyimpan beberapa kekhawatiran dan gegar budaya, Kepala Kajian Islam Universitas Munster, Mouhanad Khorcide, menilai ini bisa menjadi "keberuntungan." "Islam di Jerman akan menemukan keragaman," kata Khorcide.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement