Ahad 03 Sep 2017 23:21 WIB

Jejak Islam di Negeri Nelson Mandela

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
Umat Muslim di Cape Town, Afrika Selatan.
Foto: guardian.co.uk
Umat Muslim di Cape Town, Afrika Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Afrika Selatan menyimpan banyak keragaman. Negeri itu terdiri atas sembilan provinsi, memiliki sebelas bahasa nasional, dan dihuni oleh 51 juta orang lebih. Lanskap alamnya yang mencakup gurun pasir Kalahari yang ekstrem, padang rumput savana, serta keindahan pegunungan yang tertutup salju, semakin menambah daya tarik negara bekas jajahan Inggris tersebut.

Aset terbesar Afrika Selatan adalah masyarakatnya karena memiliki latar belakang bangsa dan budaya yang beragam. Dari jumlah keseluruhan penduduk negeri itu, sekitar 76,7 persen di antaranya berasal etnis Afrika. Sementara, sisanya sebanyak 10,9 persen terdiri atas ras kulit putih, 8,9 persen ras kulit berwarna, dan 2,6 persen lagi berasal dari etnis India atau Asia.

Agama mayoritas di Afrika Selatan adalah Kristen, yang dianut oleh sekira 79,8 persen penduduknya. Sementara, jumlah pemeluk Islam hanya berkisar dua persen dari total populasi negara itu. “Meskipun Islam hanya agama minoritas, komunitas Muslim di Afrika Selatan mencerminkan keragaman yang sama dengan corak sosial yang dimiliki penduduk negeri itu,” ungkap peneliti dari Pretoria, Suraya Dadoo, dalam artikelnya, “South Africa: Many Muslims, One Islam”.

Menurut catatan sejarah, Islam pertama kali hadir di Afrika Selatan melalui tangan para budak, tahanan politik, dan pekerja rodi dari Afrika dan Asia. Mereka dibawa ke negeri itu oleh pemerintah kolonial Eropa antara 1652 sampai pertengahan abad ke-19. Di dalam kelompok ini terdapat pula kaum 'Mardykers', yakni budak-budak Melayu yang dipekerjakan oleh para pejabat Belanda di sana.

“Banyak dari budak Melayu tersebut yang akhirnya memilih untuk tetap berada di Provinsi Cape sehingga daerah itu sekarang dikenal sebagai rumah bagi komunitas Muslim Melayu,” tulis Dadoo.

Islam menyebar dengan cepat di Provinsi Cape seiring tumbuhnya pelembagaan agama dan pendidikan di kalangan Muslim. Faktor lain yang ikut memacu pertumbuhan Islam di daerah itu adalah perkawinan, perpindahan keyakinan (mualaf), dan pembelian budak oleh para majikan Muslim.

Ketika perbudakan dihapuskan pada 1838, pemerintah kolonial Inggris menyadari perlunya sistem tenaga kerja alternatif untuk menopang kegiatan ekonomi mereka di tanah jajahan. Oleh karenanya, para pejabat Inggris akhirnya membawa orang-orang India ke Afrika Selatan untuk dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan tebu yang berada di Provinsi Natal.

“Antara 1860-1911, Pemerintah Inggris mengirim 176 ribu orang India ke Natal. Sekitar 7-10 persen dari kaum imigran itu adalah Muslim,” ujar Dadoo lagi.

Pada masa selanjutnya, kaum Muslim India tadi membentuk komunitas tersendiri di Natal. Sebagian dari mereka ada yang kemudian memilih menetap di Cape Town, dan ada pula yang hijrah ke Transvaal atau Kimberley.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement