Senin 10 Jul 2017 19:45 WIB

Argentina Beri Ruang Umat Islam Beribadah

Islam di Argentina
Foto: Wordpress
Islam di Argentina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam menjalankan ibadah, Muslimin Buenos Aires memang tak mengalami hambatan. Pun saat Ramadhan tiba. Sebagai wilayah dengan iklim subtropis, kota tujuan wisata favorit setelah Rio de Janeiro ini tak mengalami cobaan panjangnya waktu puasa seperti halnya di Eropa. Matahari terbit dan terbenam dengan rentang waktu yang cukup cepat. Muslimin Buenos Aires pun mensyukuri dan menyambutnya dengan gembira.

Secara internal, komunitas Muslimin di sana akan ditemui amat beragam. Tak hanya Suni, beberapa Muslimin pun menganut Sufi, Alawi, hingga Syiah. Pedro Brieger dan Enrique Herszkowich dalam artikel "The Muslim World" terbitan Universitas Buenos Aires menyebutkan, kaum Suni sebagian besar berasal dari Suriah dan menetap di kawasan Constitución, dekat CIRA. Adapun Syiah sebagian besar berasal dari Lebanon dan hidup di kawasan Flores, dekat komunitas Yahudi dan dekat Masjid Al Tauhid.

Sedangkan, penganut Alawi menetap di José Ingenieros, yang termasuk dalam provinsi Buenos Aires. Sementara, Druze menetap di kawasan Scalabrini Ortiz dan Córdoba, bertetangga dengan komunitas Yahudi yang dikenal dengan Ashkenazi Jews.

Meski beragam, mereka bersatu dan dinaungi organisasi Muslimin yang sama, baik di tingkat Buenos Aires maupun tingkat nasional Argentina. Bahkan, organisasi tingkat Amerika Latin, The Islamic Organization of Latin America (IOLA), pun bepusat di sana.

Namun, media nasional The Argentina Independent menyebutkan, masing-masing afiliasi keagamaan di Buenos Aires memiliki masjid berbeda. Kendati demikian, perbedaan masjid tidak diindikasikan perpecahan Muslimin di salah satu dari 20 kota terluas di dunia itu. "Ada baiknya menjelaskan bahwa setiap masjid tidak membedakan siapa saja yang bisa masuk," ujar Dr Noberto R Méndez, seorang profesor dan peneliti di Universitas Buenos Aires.

Dalam sejarahnya, awal mula Muslimin di Buenos Aires tak luput dari sejarah Islam Argentina. Komunitas Islam awal berasal dari para imigran Suriah dan Lebanon pada akhir 1850-an. Bahkan mantan Presiden Argentina, Carlos Menem Saul, memiliki nenek moyang bangsa Suriah.

Menurut Pedro Brieger dan Enrique Herskowich dalam artikel "Masyarakat Muslim di Argentina" yang diterbitkan dalam "Todo es Historia", ketika komunitas Muslim di Argentina mulai tumbuh pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, hampir semua imigran Muslim adalah keturunan Arab, terutama dari Lebanon dan Suriah.

Jumlah komunitas ini cukup besar di Argentina. Namun, angkanya mulai menyusut ketika terjadi gelombang migrasi baru dari Afrika dan dari Arab, tapi beragama non-Islam. "Saat ini, keturunan Arab tetap mengambil proporsi yang signifikan dari populasi Muslim. Namun, arus migrasi telah bergeser, komposisi komunitas berubah," tulis artikel tersebut.

Menurut UUCSA, saat ini komunitas Muslim memang didominasi imigran Arab. Hanya saja, terdapat ikatan historis dengan Muslimin Spanyol yang dahulu sempat  menjadi wilayah kekhalifahan Islam. Tak sedikit pula masyarakat Latin yang mendapat hidayah dan bergabung dengan komunitas Muslim.

Disarikan dari Pusat Data Republika

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement