Ahad 04 Jun 2017 21:45 WIB

TGB: Pemimpin dalam Islam adalah Pelayan Publik

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Andi Nur Aminah
Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi (tengah) memberikan tausiyahnya didampingi Rektor ITB Kadarsah Suryadi (kanan) saat acara Inspirasi Ramadhan di Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Ahad (4/6).
Foto: Mahmud Muhyidin
Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi (tengah) memberikan tausiyahnya didampingi Rektor ITB Kadarsah Suryadi (kanan) saat acara Inspirasi Ramadhan di Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Ahad (4/6).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Nusa Tenggara Barta (NTB), TGH M Zainul Majdi memberikan ceramah di Masjid Salman ITB dalam rangkaian acara talkshow inspirasi Ramadhan (Irama) sekitar pukul 16.30 WIB, Ahad (4/6). Dalam pemaparannya, lelaki yang akrab disapa TGB oleh masyarakat ini menjelaskan tentang tema melayani rakyat berlandaskan Alquran.

Dalam uraiannya, pemimpin dalam Islam adalah pelayan publik. Dimana, berdasarkan keterangan ahli ulama, kepemimpinan Islam itu tidak berjalan secara struktural akan tetapi fungsional. Karakter tersebut sudah mendarah daging dalam sejarah perjalanan umat Islam.

"Saya ilustrasikan, pemimpin itu harus masuk kampung ke kampung. Dia harus datang setiap saat ke ujung (masyarakat) yang paling jauh," ujarnya kepada ratusan jamaah di Masjid Salman ITB yang mayoritas mahasiswa.

Ia menuturkan, dalam Islam, berkhidmat bagi seorang pemimpin bukan sebagai asesoris atau pencitraan. Akan tetapi melayani dengan hati sampai kepada batas yang paling jauh. Akan tetapi, dia mengatakan, melayani rakyat bukan berarti mengikuti apa saja yang diinginkan masyarakat.

"Bukan berarti pemimpin (sebagai) pelayan rakyat lalu ia meletakan kesenangan rakyat segala-nya tanpa peduli cita-cita masyarakat. Dua hal ini tidak perlu di pertentangkan karena dua hal ini bisa terjadi bersamaan. Melayani dengan baik dan melakukan transformasi," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, saat memimpin harus menyandarkan diri kepada Allah SWT seperti kepemimpinan rasul yang menyandarkan diri secara utuh kepada Allah SWT. Selain itu, rasul total dalam menjalankan amanah.

Sebelumnya, di awal-awal sambutannya, TGB menceritakan perkenalan dirinya dengan (masjid) Salman ITB. "Saya bersyukur bisa hadir di Masjid Salman ITB. Mesjid ini membuat adik-adik meletakkan diri dalam proses pembangunan umat (Islam) di Indonesia yang luar biasa," ujarnya kepada ratusan jamaah.

Ia menuturkan, saat masih mengenyam pendidikan pesantren di Pancor, Lombok Timur, dia memiliki seorang teman bernama Supratman yang sering berkunjung ke Pulau Jawa, Jakarta dan Bandung. Kemudian saat pulang ke Lombok, teman tersebut membawa buku Cendikiawan, Imaduddin Abdulrahim.

Menurutnya, bersama temannya tersebut ia sering membaca tulisan-tulisan pendiri Masjid Salman ITB itu. Lantas, dari bacaaannya, Gubernur NTB yang sudah menjabat periode kedua ini memiliki pandangan jika berjuang untuk Islam itu tidak mesti berangkat dari pondok pesantren. Akan tetapi bisa dari universitas.

"Maka (patut) bersyukur (saudara-saudara) bisa menjadi bagian dari institusi luar biasa seperti ITB," ungkapnya. Apalagi perguruan tinggi di daerah Jawa menjadi idaman bagi seluruh orang di penjuru Indonesia. "Bang Imad itu hebat bukan karena di ITB tapi karena mendapat gemblengan masjid Salman," ujarnya menambahkan.

Menurur Zainul Majdi, semangat yang muncul dari buku tersebut adalah bagaimana tauhid. Tidak hanya kokoh di hati dan tajam di lidah akan tetapi juga membangun peradaban.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement