Senin 06 Mar 2017 16:00 WIB

Menara Enim Cerminkan Cita Rasa Seni Bangsa Uighur

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Menara Enim, Cina
Foto: Wikiipedia
Menara Enim, Cina

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Menara Emin mulai dibangun pada 1777 pada era Kaisar Qianlong (1735-1796) atau di masa Emin Khoja dan selesai dalam setahun pada masa pemerintahan putra Emin Khoja, Suleman. Karena itu, menara ini juga dikenal dengan sebutan Su Gong Ta yang artinya Menara Pangeran Su.

Menara ini dibangun atas biaya swadaya masyarakat sebagai penghormatan kepada pemimpin Turpan, Emin Khoja. Pembangunan Menara Emin dilakukan oleh tenaga-tenaga lokal, menggunakan material lokal pula. Arsitekturnya adalah seseorang bernama Ibrahim yang terinspirasi dari bangunan era pra Dinasti Safawiyah, Iran. Ada pula yang menyebut Ibrahim terinspirasi gaya Afghani.

Menara Emin terletak di jalur perdagangan kuno, Jalur Sutera, dekat ibu kota tua Uighur, Gaochang, dan tak jauh dari Gua Seribu Buddha Bezeklik. Wilayah selatan Xinjiang sudah lama menjadi penghubung Asia Timur dan Barat melalui Jalur Sutera. Wilayah di sekitar jalur persimpangan Timur dan Barat ini memang kaya akan bangunan dan situs Islami milik Bangsa Uighur. Bangunan dan menara yang ada di sekitar kawasan ini mencerminkan perpaduan cita rasa seni Islam dengan tradisi bangunan Bangsa Uighur.

Struktur bangunan Menara Emin tersusun atas kayu dan bata. Menara ini dibangun sirkular dengan bagian atasnya ditutup kubah berdiameter 14 meter dan semakin mengecil menuju puncaknya.

Eksterior menara yang terbuat dari bata kuning juga tak sepenuhnya rata dari bawah ke atas. Bata-batanya disusun sedemikian rupa hingga tersusun secara geometris dengan ornamen-ornamen floral. Perpaduan gaya Islam dan Cina ini hanya bisa ditemui pada menara-menara di Cina. Pola geometris menjadi ciri bangunan-bangunan era kejayaan Islam.

Di sepanjang menara, tersebar jendela-jendela kecil yang terletak di ketinggian berbeda dan menghadap ke berbagai arah untuk menangkap cahaya dan udara. Tangga di bagian dalam menara kini tak lagi boleh dinaiki. Tapi, ada 72 anak tangga pendukung di sekeliling menara sebagai akses mendaki ke dekat puncak menara.

Menara ini terletak di pojok timur laut Masjid Emin. Masjid yang juga disebut Masjid Suleiman ini berdinding putih dan halus di bagian luarnya. Bagian muka masjid tak berjendela sama sekali.

Masjid ini berbentuk persegi dengan sebuah iwan (aula utama) atau sebuah mihrab. Masjid ini terbagi atas area dalam yang digunakan jamaah saat musim dingin dan area luar untuk kegiatan saat musim panas. Area luar disokong tiang-tiang dan palang kayu. Area ini luas dan terbuka. Sementara, area dalam lebih kecil dan tertutup.

Bangunan masjid sendiri berbentuk persegi dengan pintu utama menghadap ke timur. Secara keseluruhan, atap bangunan masjid tampak ditutup atap melengkung. Bagian utara dan selatan bangunan masjid tampak dibuat dengan struktur lengkungan-lengkungan. Begitu pula jendela dan pintu yang kusennya memang dibuat melengkung di bagian atas.

Berada di wilayah dengan curah hujan yang amat sedikit, perubahan suhu yang cepat, cahaya matahari yang berlimpah, dan angin yang kencang, Menara dan Masjid Emin mampu bertahan lebih dari dua abad berkat konstruksinya yang solid dan bentuk kolumnar bangunan. Masjid ini adalah masjid kedua terbesar di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang.

Luas area masjid ini mencapai 2.500 meter persegi, terdiri atas Menara Emin dan masjid jami'. Arsitektur kompleks ini terbilang sederhana, tapi serius, menunjukkan gaya Islami dan nilai luhur religi. Menara Emin dan masjidnya merekam penghormatan Bangsa Uighur akan agama dan persatuan

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement