Rabu 28 Dec 2016 18:00 WIB

Pengaruh Hindu-Jawa di Arsitektur Masjid Laweyan

Rep: my1/ Red: Agung Sasongko
Masjid Laweyan Solo.
Foto: Republika/Nur Aini
Masjid Laweyan Solo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Kota Solo, terkenal dengan nama Sungai Berantas dan Stasiun Kereta Api Solo Balapan. Tak asyik bila tak berkunjung ke kedua tempat itu. Namun demikian, jika memang suatu saat berada di kota ini, rasanya tak afdhol bila tak mencoba mengunjungi masjid tertua di Solo. Itulah Masjid Laweyan.

Masjid yang berusia hampir lima abad ini, terletak di Dusun Pajang RT 4 RW 4, Laweyan, Solo. Bangunan utamanya tidak besar, hanya 162 meter persegi. Namun demikian, masjid tertua di Kota Solo ini, memiliki sejarah yang sangat panjang dan punya kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Karesidenan Surakarta.

Menurut Ketua Takmir Kepengurusan Harian Masjid Laweyan Achmad Sulaiman, Masjid Laweyan telah ada jauh sebelum Kota Solo terbentuk pada 1745. Masjid Laweyan dibangun pada 1546, saat Jaka Tingkir berkuasa di Kerajaan Pajang. Masjid ini juga jauh lebih tua dari Masjid Agung Solo yang baru dibangun pada 1763,” ujarnya.

Sulaiman menjelaskan, keberadaan Masjid Laweyan tidak bisa dilepaskan dari peran seorang pemuka agama Islam Kerajaan Pajang, yang bernama Ki Ageng Henis. Sebelumnya, Masjid Laweyan merupakan tempat peribadatan agama Hindu berupa sanggar (semacam pura) milik Ki Beluk.

Ki Beluk memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Henis yang merupakan sahabat dari Sunan Kalijaga. Karena kemuliaan sifat Ki Ageng Henis, Ki Beluk memeluk Islam. Sanggar milik Ki Beluk pun kemudian diubah menjadi langgar (mushala),” terangnya.

Pengaruh Hindu-Jawa melekat dalam arsitektur Masjid Laweyan. Hal itu tampak dari penataan ruang dan sisa ornamen yang masih dapat ditemukan di sekitar masjid hingga saat ini.

 

Sulaiman menjelaskan, letak masjid yang berada di atas bahu jalan merupakan salah satu ciri dari pura (Hindu).  Tak hanya fungsi, bentuk bangunannya pun mengalami perubahan sebelum fisiknya yang sekarang. Pura yang beralih menjadi Masjid semula berbentuk rumah panggung bertingkat dari kayu.

Menurut dosen arsitektur Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) yang juga Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, pengaruh Hindu terlihat dari posisi masjid yang lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya. Saat ini, sejumlah ornamen Hindu memang tak lagi menghiasi masjid. Akan tetapi, ornamen Hindu seperti hiasan ukiran batu masih menghiasi makam kuno yang ada di kompleks masjid. Kemungkinan hiasan yang sama juga ada di Masjid Laweyan sebelumnya,” ujar Alpha.

Sedangkan tata ruang Masjid Laweyan, terang Alpha, merupakan tipologi masjid Jawa pada umumnya. Dalam tipologi ini, jelasnya, ruang dibagi menjadi tiga, yakni ruang induk (utama) dan serambi yang dibagi menjadi serambi kanan dan kiri.

Pengaruh Kerajaan Surakarta terlihat dari berubahnya bentuk masjid menyerupai bangunan Jawa yang terdiri atas pendopo atau bangunan utama dan serambi. Ada dua serambi, yakni kanan dan kiri. Serambi kanan menjadi tempat khusus putri atau keputren, kalau yang kiri hanya perluasan untuk tempat shalat jamaah,” jelas Achmad Sulaiman.

Keberadaan makam di kompleks masjid, kata Alpha, juga menunjukkan karakteristik dari masjid Jawa. Di kompleks masjid yang hampir mencapai satu hektare itu, terdapat pemakaman untuk para bangsawan Keraton Solo. Sebagian besar kompleks tersebut, saat ini digunakan untuk pemakaman.

Ciri arsitektur Jawa ditemukan pula pada bentuk atap masjid. Alpha menjelaskan, dalam arsitektur Jawa, bentuk atap menggunakan tajuk atau bersusun. Atap Masjid Laweyan terdiri atas dua bagian yang bersusun.

 

Gaya arsitektur Jawa, jelas Alpha, juga terlihat pada dinding masjid yang terbuat dari susunan batu bata dan semen. Penggunaan batu bata sebagai bahan dinding, baru digunakan masyarakat sekitar tahun 1800.

Namun demikian, Alpha menduga, sebelum dibangun seperti sekarang, bahan-bahan bangunan masjid, sebagian menggunakan kayu. Bukti bahwa dinding awal Masjid Laweyan adalah kayu, juga ditunjukkan dengan adanya rumah pelindung makam kuno. Rumah tersebut terbuat dari kayu. Cungkup (rumah) di makam kuno dari kayu semua, kemungkinan besar, Masjid Laweyan semula juga berbahan kayu,” terangnya

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement