Jumat 18 Nov 2016 17:30 WIB

Jejak Muslim Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Agung Sasongko
 Umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta, Jumat (17/7). (foto : MgROL_45)
Umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta, Jumat (17/7). (foto : MgROL_45)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muslim Tionghoa menorehkan sejarah panjang di Indonesia. Kelompok ini merupakan subkelompok dari etnis Cina yang ada di Tanah Air. Kiprah Muslim asal negeri naga pun dianggap memiliki peranan dan mewarnai penyebaran Islam di nusantara.

Sejumlah kalangan percaya, beberapa dari Wali Songo, ulama-ulama yang menyebarkan Islam ke Nusantara, memiliki darah keturunan Tionghoa atau memiliki kaitan dengan Cina. Namun, hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Sebab, sumber-sumber yang digunakan sebagai rujukan masih kabur.

(Baca: Siapa Pembawa Bendera Islam Pertama Kali di Negeri Cina)

Kendati begitu, ada hipotesis yang berkembang terkait kehadiran Muslim Tionghoa di nusantara. Sudah ada komunitas orang Cina Muslim yang berada di nusantara sebelum masyarakat lokal menerima atau memeluk ajaran Islam.

Menurut sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Didi Kwartanada, hal ini berdasarkan catatan-catatan atau berita dari bangsa Portugis, ditambah dengan catatan sekretaris Laksamana Ceng Ho sewaktu melakukan perjalanan ke nusantara, tepatnya di Pulau Jawa.

(Baca Juga: Pengusaha Muslim Tionghoa Geliatkan Zakat dan Didik Anak Yatim)

Komunitas "naga hijau" sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. ''Memang, berdasarkan berita dari orang Portugis, itu sudah ada (komunitas Cina Muslim) yang tinggal di sekitar kawasan pesisir. Itu ada di abad ke-14 atau sekitar abad ke-15. Itu sudah ada. Jadi, memang sudah Muslim dari sananya (dari Cina—Red), kemudian tinggal, bermukim, dan berdagang di nusantara,'' kata Didi ketika dihubungi Republika.

Namun, Didi menjelaskan, soal asal mula Islam masuk di nusantara memang belum satu suara. Masih ada yang menyebut, Islam di Nusantara masuk melalui Hadramaut dan Gujarat. Ada juga yang mengungkapkan, masuknya Islam melalui daratan Cina. Kendati begitu, penyebaran Islam yang dilakukan melalui pesisir juga dapat dibuktikan melalui adanya legenda-legenda setempat ataupun nama-nama berbau Cina di sekitar pesisir pantai utara Pulau Jawa.

''Seperti di Jepara, ada namanya Kiai Telingsing. Itu kemungkinan besar orang Cina dan berasal dari Cina Selatan, meskipun masih belum bisa dipastikan apakah dia masuk Islam di nusantara atau memang sudah memeluk Islam sebelumnya. Dia kemudian akhirnya bermukim di pesisir Jawa dan beranak-pinak di sana,'' tutur Didi.

Didi menjelaskan, rata-rata orang Cina yang berada di Pulau Jawa memang berasal dari Cina bagian selatan. Mereka berasal dari suku Hokian. Secara kultur, suku Hokian memang dianggap lebih luwes dan gampang membaur dengan masyarakat. Hal ini yang membuat mereka lebih mudah bergaul. Terlebih, mereka juga memiliki kepentingan perdagangan dengan masyarakat lokal nusantara.

Kondisi ini juga diperkuat dengan adanya kesamaan pemahaman agama di beberapa komunitas orang Cina. Pembauran dan asimilasi yang dibangun antara Muslim Tionghoa dengan masyarakat lokal lebih mudah. Saat ini, menurut Didi, komunitas mereka memang sudah berkembang cukup pesat. Hal ini terlihat dengan bermunculannya dai-dai atau ustazah keturunan Cina. Mereka juga tidak hanya menyebarkan Islam sebatas ke komunitas Cina, tetapi juga kepada masyarakat secara umum.

''Seperti misalnya Koko Liem atau Felix Siauw, itu kan jamaah mereka bukan hanya dari kalangan Cina saja, tapi juga secara umum. Belum lagi yang ada di daerah-daerah, yang sebenarnya juga cukup banyak. Sekarang, mereka memang cukup mewarnai dakwah Islam di Indonesia,'' ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement