REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Menag RI Lukman Hakim Saifuddin meminta semua pihak untuk terus menjaga nilai-nilai Islam Moderat yang diajarkan oleh para pendahulu. Upaya ini guna menghadapi ancama ekstrim kanan dan ekstrim kiri yang ingin mengganti ideologi negara dengan keinginan dan cita-cita mereka, yang saat ini sudah mulai terlihat aktivitasnya.
"Mari kita jaga Indonesia kita dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh para pendahulu. Mari, kita bumikan nilai-nilai tawasut, itidal, tasamuh, tawazun dan lain sebagainya, untuk menghadapi ekstrim kanan dan ekstrim kiri yang ingin mengganti ideologi kita sesuai dengan keinginan dan cita-cita mereka," katanya di hadapan civitas akademika Unasman, usai penandatanganan prasasti gedung Fakultas Agama Islam di kampus ini, kemarin.
Dikatakan Lukman, dengan era keterbukaan saat ini, maka banyak pengarus budaya dari luar yang begitu saja diserap oleh generasi muda sekarang. Padahal, budaya global itu lebih banyak mudlaratnya bagi generasi muda saat ini.
Kondisi ini pun dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tak bertangung jawab untuk mengganti ideologi negara dengan ideologi yang mereka miliki. "Ini yang harus kita semua waspadai gerakannya. Jangan sampai nilai-nilai luruh para pendahulu kita itu hilang dan akhirrnya negara menjadi hancur," katanya.
Sebelumnya, Menag terlebih dulu mampir Polewali Mandar (Polman) yang berjarak sekitar 44 KM dari Majene. Menag tiba di Kantor Kemenag Polman untuk meresmikan Gedung Baru Kankemenag Polman yang dibangun selama 4 tahun dengan biaya sekitar Rp 4,5 M.
Kehadiran Menag sudah dinanti Keluarga Besar ASN Kemenag se-Sulbar, para tokoh masyarat, tokoh agama dan 3.000 siswa madrasah tingkat MI, MTs dan MA peserta Kemah Karya Pramuka Madrasah tingkat Provinsi Sulbar.
"Saya mengapresiasi semua pihak yang menjaga kehidupan keagamaan dan mengembangkannya ke arah yang lebih baik. Ini penting, karena agama dan negara meski bisa dibedakan, namun tak bisa dipisahkan. Agama dan negara seperti dua sisi mata uang logam. Begitulah posisi agama dan negara dalam konteks keindonesiaan kita," terang Menag.
Kepada ribuan siswa madrasah yang akan menjadi generasi penerus bangsa, Menag menegaskan, bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila, bukan negara agama, bukan pula negara sekuler. Menurutnya, pendiri bangsa telah menempatkan agama sebagai bagian penting yang ikut menjadi jiwa dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara, di tengah kemajemukan Indonesia.
"Semua sila dalam Pancasila, hakikatnya adalah nilai-nilai agama. Begitulah para pendahulu kita, dengan kearifan membangun pondasi ini dengan kokoh," tegas Menag disambut tepuk tangan hadirin.
"Hubungana agama dan negara, adalah hubungan saling memerlukan, saling membutuhkan, saling menopang dan simbiosis mutualisme. Agama bisa diimplementasikan dengan baik kalau ditopang oleh negara sebagaimana negara bisa bekerja dengan baik kalau ada nilai-nilaia agama yang menjadi spirit," imbuhnya.




