Kamis 03 Nov 2016 14:59 WIB

Islamofobia Dinilai tidak Berkembang di Jepang

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Agus Yulianto
Aktivitas umat Islam di Masjid Mie Jepang
Foto: miemasjid.wordpress.com
Aktivitas umat Islam di Masjid Mie Jepang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pembicara di World Peace Forum 2016 membagikan kehidupan Muslim di negaranya masing-masing. Profesor dari Kyushu International University Jepang, Satomi Ogata, turut membagikan pengalamannya tentang Islam di Jepang.

Dalam materinya, Satomi menuturkan, sejumlah perbedaan yang terjadi di Jepang, seperti yang menjadi duta Islam merupakan anak-anak dan kaum ibu. Selain karena pakaian, ternyata ia menilai, umat Islam yang berusia tua terbilang tidak memiliki pemahaman yang mumpuni tentang Islam, dan kurang aktif di berbagai kegiatan.

Uniknya, ia merasa orang-orang di Jepang tidak begitu terkena dampak meluasnya islamphobia seperti beberapa negara Asia, atau malah telah meluas ke seluruh dunia. Bahkan, Satomi mendapati, anak-anak yang sebagian besar merupakan mahasiswanya, tidak begitu peka dengan isu-isu tentang Islam di dunia, seperti Palestina dan Rohingya.

"Masyarakat di Jepang tidak begitu mengenal islamphobia, tidak ada ketakutan kepada Islam seperti yang terjadi di dunia," kata Satomi, Kamis (3/11).

Dia mengungkapkan, kaum muda di Jepang malah banyak yang menyukai sejumlah aktivitas yang akrab dengan umat islam seperti bersedekah dan membagikan makanan. Namun, menurut Satomi, tidak banyak orang yang mau datang secara pribadi ke kegiatan-kegiatan yang dibuat komunitas Muslim, jika tanpa undangan terlebih dulu.

Satomi Ogata menjadi pembicara di World Peace Forum 2016 pada sesi ketiga, dengan mengangkat tema wanita bersama sejumlah aktivis perdamaian perempuan dari Tunisia dan Roma. Sesi itu sendiri dibuka oleh pembicara kunci yang merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement