Selasa 04 Oct 2016 03:20 WIB

Masjid Aitika Representasikan Bangunan Islam dengan Unsur Etnik

Masjid Aitika, Kashi, Xinjiang
Foto: cri.cn
Masjid Aitika, Kashi, Xinjiang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Secara garis besar Masjid Aitika terdiri atas halaman, ruangan shalat, pintu gerbang, dan beberapa bangunan lain yang masuk dalam kompleks masjid. Tidak seperti kebanyakan masjid di Xinjiang, Masjid Aitika memiliki bentuk struktur yang tidak biasa. Struktur bangunan yang digambarkan sang arsitek menempatkan pusat bangunan dai halaman yang berisi banyak tumbuhan.

Halaman yang memiliki bentuk nonortogonal itu terbelah oleh jalan yang menghubungkan antara pintu masuk dan pintu ruangan shalat. Paralel dengan ruangan shalat yang panjang, terdapat satu lagi jalan yang membelah halaman itu menjadi kuadran.

 

Jalan itu menghubungkan antara dua pintu masuk di sisi kiri dan kanan. Tempat kediaman para imam, ruangan belajar, dan kamar-kamar para santri berada dekat dengan halaman, yaitu di sebelah utara dan selatannya. Toko-toko yang berada di sisi luar tembok halaman, ikut membantu perawatan masjid melalui tradisi wakaf mereka.

Pintu masuk kompleks masjid berada di sudut paling selatan. Yaitu, di bagian yang menghadap langsung ke alun-alun kota. Gerbang utama Masjid Aitika berupa bangunan segi empat besar. Pintu masuknya seolah tersembunyi di dalam bingkai melengkung yang membentuk semacam ceruk. Pada tembok di samping gerbang, juga terdapat ceruk-ceruk segi empat, yang bagian atasnya melengkung seperti busur.

Di gerbang utama ini, di sisi kiri dan kanannya terdapat dua menara. Meskipun tingginya mencapai 18 meter, menara tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan menara-menara pada bangunan masjid yang lain. Bentuknya mirip dengan Menara Poi dan Masjid Kalyan di Bukhara.

Keduanya memiliki bentuk seperti lentera dengan bagian kubah bergaris-garis. Menara itu dibuat dari batu bata kuning dan gips berwarna putih. Untuk mempercantiknya, keramik warna-warni ditempelkan sehingga membentuk cincin-cincin pada menara itu. Tepat di balik gerbang utama itu terdapat tempat wudhu yang terbuka hingga ke halaman utama yang luas.

Ketika memasuki halaman itu, akan tampak pohon poplar yang menjulang tinggi, lalu banyak pula pohon-pohon pinus di sekitarnya. Berkat pohon-pohonan itu, halaman yang luas itu menjadi sangat teduh sehingga siapa pun yang berada di sana akan selalu merasa sejuk. 

Di kompleks masjid itu juga terdapat sebuah kolam yang airnya sangat jernih sehingga airnya menjadi berwarna hijau akibat pantulan warna pepohonan di sekitarnya. Halaman yang sangat luas tersebut diisi oleh empat taman yang terdiri atas kanal dan pepohonan. Dua bagian besar di sisi utara bahkan dilengkapi dengan kolam. Ruangan shalat terletak di sisi barat halaman.

Ruangan shalat merupakan bagian yang lebih tinggi dari permukaan halaman. Atapnya ruangan tersebut ditopang dengan pilar kayu berbentuk segi empat dengan warna biru menyala. Pada atap dan seputaran pilar-pilar itu terdapat ukiran dan gambar-gambar yang cantik dan menarik.

Bagian mihrabnya merupakan ceruk yang terdapat di sisi paling barat di ruangan itu. Mihrab itu dihiasi dengan keramik-keramik yang indah. Dekorasi untuk mihrab itu mengikuti pola bunga-bunga arabesque atau bentuk-bentuk geometris yang linier. Warna yang digunakan mulai dari hijau menyala, kuning, biru, dan merah yang ditempelkan di ceruknya. Di samping ceruk mihrab, terdapat mimbar sederhana yang terdiri atas susunan batu bata saja.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement