REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Karier Shajarat Al-Durr dalam hal kepemimpinan dimulai ketika ia menikah dengan Malik al Saleh, penguasa terakhir Dinasti Ayyubiyah, Mesir. Namun, Malik al Saleh meninggal pada 1250, tepat ketika Mesir diserang oleh gabungan tentara Prancis dan Jerman yang dipimpin oleh Raja Louis IX.
Bukannya berlarut-larut dalam kesedihan, Shajarat justru bekerja sama dengan komandan militer memimpin pasukan melawan tentara Prancis yang dipimpin Raja Louis. Di bawah kepemimpinan Shajarat, tentara Mesir berhasil melumpuhkan Raja Louis beserta pasukannya dan menjebloskan mereka ke dalam tahanan.
Selama masa-masa kritis melawan pasukan Raja Louis, anak laki-laki dari Malik al Saleh, Turan Shah, sedang tidak berada di Kairo. Shajarat pun meminta Turan untuk segera kembali ke Kairo. Ketika Turan Shah tiba, Shajarat lagsung meminta Turan untuk meneruskan takhta ayahnya.
Namun, Turan tidak berkompeten memimpin dinasti. Para jenderal Mamluk lalu meminta Shajarat untuk menjadi ratu Mesir. (Baca: Kepiawaian Shajarat al-Durr Selamatkan Mesir dari Serbuan Barat dan Mongol)
Permintaan terhadap Shajarat untuk menjadi pemimpin Mesir tak serta-merta disetujui oleh Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad, al-Mustanshir. Bahkan kemudian, Khalifah al-Mustanshir mengambil keputusan bahwa Shajarat tidak bisa memperoleh gelar Malika atau Ratu dari khalifah Baghdad. Alasannya, Kekhalifahan Abbasiyah secara politis tidak bisa menerima seorang pemimpin atau kepala negara dari kalangan wanita.
Agar bangsa Mamluk tetap dapat berkuasa, pasukan Mamluk pun mengusulkan jenderal mereka, Izzaddin Aibak, untuk menjadi raja Mesir. Usulan itu akhirnya diterima oleh Khalifah al-Mustanshir.
Namun, Shajarat tidak kehilangan akal. Ia tetap ingin berada di panggung utama kekuasaan Mesir. Shajarat kemudian menikah dengan Izzaddin Aibak. Dengan cara itu, secara otomatis, Shajarat juga dikukuhkan menjadi ratu Mesir dengan dicetaknya nama Shajarat di atas koin dan diberkati dalam khutbah Jumat bersama dengan Izzadin sebagai raja baru.
Shajarat adalah wanita yang memiliki keinginan tinggi untuk belajar. Ia juga seorang pembelajar yang sangat baik. Shajarat yang berparas cantik, juga gemar menulis dan mampu menjadi pembicara yang bisa meyakinkan siapa saja yang mendengarkannya. Shajarat bahkan sempat mendirikan beberapa perguruan tinggi yang diberi nama seperti namanya.
Di tengah kiprahnya sebagai ratu, Shajarat dipaksa menelan kenyataan pahit. Kondisi geopolitik menuntut suaminya, Izzaddin, untuk menikah lagi dengan seorang putri dari Mosul. Tak rela berbagi suami dengan wanita lain, Shajarat yang termakan api cemburu menyusun rencana untuk membunuh suaminya.
Maka, ketika sang suami berkunjung ke istana, Shajarat pun melaksanakan rencananya untuk membunuh sang suami. Tertangkap tangan membunuh sang raja, Shajarat kemudian dibunuh dan dimakamkan di kompleks salah satu sekolah yang ia dirikan. Sebuah akhir kehidupan tragis untuk sang ratu.




