Kamis 01 Sep 2016 19:00 WIB

Shajarat al-Durr Selamatkan Mesir dari Serbuan Barat dan Mongol

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Agung Sasongko
Mesir
Foto: freeworldmaps.net
Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Dalam sejarah Islam, perempuan memiliki peran dan kontribusi besar dalam membangun peradaban. Sederet nama kaum Hawa bahkan pernah muncul sebagai pemimpin dari suatu kerajaan. Mereka memimpin selayaknya kaum Adam menjadi pemimpin, bahkan beberapa dari mereka menunjukkan kualitas kepemimpinan lebih baik.

Lantas, jalan seperti apa yang ditempuh para wanita itu hingga menjadi pemimpin suatu bangsa?

Ada berbagai jalan atau cara yang mereka tempuh. Beberapa dari mereka menjadi ratu karena memang berhak sebagai pewaris takhta. Ada pula yang menjadi pemimpin karena menggantikan suaminya yang ternyata tidak mampu memimpin atau saudara lelakinya yang masih terlalu muda untuk menjadi raja.

Salah satu pemimpin wanita Muslim yang cukup dikenal dalam sejarah Islam yaitu Shajarat al-Durr. Dialah sang ratu Mesir. Shajarat naik takhta empat belas tahun setelah Razia Sultana, seorang Muslimah asal India yang dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Delhi.

Seperti halnya Razia Sultana, Shajarat adalah Muslimah keturunan Mamluk (kaum budak) dari Turki. Dalam hal ini, Shajarat berasal dari kelompok Bahri Mamluk yang menempati pulau-pulau di Laut Arab dan kawasan sekitar Sungai Nil.

Mengenai Mamluk, sejarah mencatat, suatu saat tentara Salib dan bangsa Mongol pernah berusaha keras menghancurkan Islam. Kala itu, penguasa Mongol, Genghiz Khan, berhasil menghancurkan Asia. Sementara penerusnya juga telah menginvasi Baghdad. Selain Mesir, hanya India yang berhasil lolos dari ancaman Mongol berkat jalur diplomasi dan ketegasan Raja Iltutmish, ayah dari Razia Sultana.

Namun, sayang banyak kerajaan Islam lainnya yang jatuh ke tangan Mongol seperti Samarkand, Bukhara, Kabul, Herat, Neshapur, Multan, dan Tabriz. Tak terkecuali Persia, Khorasan, Afghanistan, dan Irak.

Sementara, tentara Salib yang sudah berkumpul di Spanyol setelah dikeluarkan dari Palestina mengambil keuntungan dari ketegangan yang terjadi di dalam Kesultanan Andalusia. Tentara Salib pun berhasil menguasai banyak semenanjung. Setelah berhasil meruntuhkan Andalusia, tentara Salib mulai bergeser ke Mesir dan Afrika Utara.

Kala itu, hanya bangsa Mamluk Turki yang mampu bertahan dari serangan bangsa Mongol dan tentara Salib. Mereka mampu menjadi perisai dan menghentikan laju tentara Salib dan bangsa Mongol di gerbang Yerusalem dan di tepi Sungai Indus. Kemenangan Sultan Baybars dalam pertempuran Ain Jalut, pada 1261, berhasil menyelamatkan Makkah dan Madinah dari nasib buruk seperti yang menimpa Yerusalem pada 1096.

Sebagai seorang Mamluk, Shajarat dilahirkan dalam lingkungan perbudakaan. Seperti Razia Sultana, Shajarat berhasil bangkit dari kungkungan lingkungannya menjadi seorang ratu di Mesir.

Bagaimana Shajarat mampu melakukan itu?

Pertama, kebangkitan ini merupakan hasil dari semangat egaliter yang mampu memecahkan dinding batas antara majikan dengan budaknya, antara yang memiliki dan yang dimiliki, antara yang hitam dan yang putih, serta antara si kaya dan si miskin. Sebab, pada dasarnya, setiap manusia memiliki kebebasan dan hak penuh atas diri mereka sendiri.

Kedua, kondisi tersebut dapat terjadi karena kehancuran tatanan sosial dan politik dunia Islam yang disebabkan oleh serangan tentara Salib dan bangsa Mongol terhadap kerajaan-kerajaan Islam. Kerusakan tatanan sosial dan politik ini memberi kesempatan bagi mantan budak atau bangsa Mamluk untuk menegaskan otoritas mereka serta menciptakan tatanan sosial dan politik yang baru.

Tatanan baru ini dibuat bertentangan dengan tatanan aristokrasi lama sehingga baik kaum pria maupun wanita memiliki ruang untuk mengikuti tradisi Turki.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement