Senin 29 Aug 2016 09:12 WIB

Sejak Kapan Dialog Islam dan Kristen Diadakan? Ini Jawabannya

Para pemuka agama dari pusat dan daerah bertemu dalam Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural Intern Pemuka Agama Islam Pusat dan Daerah di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis (24/10).
Foto:

Beberapa perkembangan pada abad ke-19 dan ke-20 menata panggung dialog Muslim-Kristen kontemporer.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pertama, sarana transportasi dan komunikasi terus membaik memudahkan perdangnan internasional dan tingkat migrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kedua, kajian akademis tentang agama menggerakkan para ilmuwan untuk mengumpulkan banyak informasi mengenai berbagai praktik agama dan sistem kepercayaaan yang ada di dunia.

Meskipun kajian Barat tentang Islam dan tradisi keagamaan lainnya di Timur cenderung tidak obyektif, tetapi sudah terjadi perubahan signifikan.

Banyak ilmuwan non Muslim berkesimpulan bahwa Muhammad tulus dan salih, tidak seperti yang dicitrakan negatif selama ini.

Faktor ketiga ialah gerakan misionaris modern di kalangan Kristen Barat. Pengalaman kontak pribadi dengan Muslim membuat banyak misionaris menilai kembali persangkaan mereka.

Tiga konferensi yang masing-masing digelar di Edinburgh 1910, Yerussalem 1928, dan Tambaram 1938 berkutat pada pelayanan di tengah-tengah perbedaan agama.

Gerakan dialog sendiri dimulai pada 1950-an. Ketika itu, Dewan Geraja Dunia atau WWC dan Vatikan menyelenggarakan sejumlah pertemuan dan perundingan antara para pemimpin Kristen dan wakil-wakil dari tradisi agama lain.

Hasilnya, pada 1964 berdiri Sekretariat bagi Agama-Agama Non Kristen yang dibentuk oleh Paus Paulus VI. Pada 1989, sekretariat itu ditata kembali dan dinamai Dewan Pontifikal untuk Dialog Antaragama.

Program dialog Muslim-Kristen dapat dijumpai di seluruh Amerika Utara, Nigeria, dan Indonesia. Sementara itu, sifat pertemuan berbeda dari tempat yang satu ke tempat lain, dan dari masa ke masa.

Muncul kemudian istilah berbagai macam istilah dalam dialog seperti “dialog parlementer”, “dialog teologis”, dialog dalam komunitas, dan dialog spiritual.

Yang dimaksud dengan dialog Parlementer ialah ebuah istilah yang digunakan untuk majelis besar yang bersidang dalam diskusi antaragama. Contoh paling awal ada Parlemen Agama Dunia 1893 di Chicago.

Pertemuan semacam ini menjadi lebih sering digelar di 1980-an dan 1990-an di bawah pengawasan organisasi-organisasi multiagama, seperti Konferensi Dunia mengenai agama dan perdamaian, serta Kongres Agama se-Dunia.

Namun, bukan berarti upaya dialog antarkedua entitas itu berjalan mulus. Bagi kalangan Muslim, mereka mengkhawatirkan seluruh kegiatan ini, baik karena sejarah panjang permusuhan maupun pengalaman kolonialisme yang masih baru.

Intrik politik kontemporer yang melibatkan AS atau kekuatan besar Barat lainnya menciptakan persoalan bagi kebanyakan calon peserta Muslim.

Sebagiannya bahkan, masih curiga bahwa dialog itu adalah bentuk samaran baru kegiatan misionaris Kristen.

Kekhawatiran juga menyerang komunitas Kristen. Masih banyak kendala konseptual dan teologis yang tersisa.

Walaupun dorongan utama muncul dari umat Kristen dan lembaga yang berkaitan dengan gereja. Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa dialog itu melemahkan atau bahkan meruntuhkan misi dan aksi Kristen.

Bagi yang lain, persepsi Islam sebagai ancaman sudah berurat-berakar sehingga mereka tidak bersedia atau tidak mampu bergerak melampaui stereotip atau membedakan antara orang yang bersimpati dan orang yang bermusuhan dari komunitas lain.   

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement