Selasa 12 Apr 2016 13:23 WIB

Alasan Disebut Rajab dan Nama Lain Bulan ini

Warga menikmati matahari terbenam (sunset) pada hari akhir tahun 2015 di pantai Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (31/12).  (Antara/Irwansyah Putra)
Warga menikmati matahari terbenam (sunset) pada hari akhir tahun 2015 di pantai Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (31/12). (Antara/Irwansyah Putra)

REPUBLIKA.CO.ID, Umat Islam saat ini sedang berada di salah satu bulan yang mulia, yaitu Rajab. Rajab, adalah bulan yang mulia dan memiliki kedudukan agung. Rajab termasuk salah satu dari empat bulan yang disucikan dan dilarang pertumpahan darah yakni, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharam. (Larangan itu berlaku di semua bulan, hanya saja, penekanan larangan itu lebih di keempat bulan itu).

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.”(QS. at-Taubah [9]: 36).  

Rajab dikenal dengan beberapa sebutan. Penamaan Rajab itu menurut Ibn Faris di Maqayis al-Lughah, berarti pengagungan. Konon, masyarakat pra-Islam menghormati Rajab. Selain kata Rajab, ada pula padanan lainnya yakni  Mudhir.

Ada sejumlah alasan, kenapa Rajab disebut Mudhir. Konon Mudhir adalah salah satu kabilah arab di masa jahiliah yang tidak mengotak-atik bulan-bulan haram tersebut, agar mereka bebas melakukkan larangan-larangan itu.

Kisah itu terabadikan di surah at-Taubah ayat ke-37. Alasan lain, karena suku ini menunjukkan penghormatan yang lebih terhadap Rajab. Ini bila dibandingkan dengan suku  yang ada saat itu.

Sedangkan sebutan Rajab berikutnya yaitu Athirah. Latarbelakang pemakaian nama Athirah, lantaran masyarakat Arab pra-Islam menyembelih hewan kurban di bulan ini. Athirah, berarti hewan kurban.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement