Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

JK Minta Syarikat Islam Kampanyekan Perdagangan

Sabtu 27 Feb 2016 18:12 WIB

Red: Achmad Syalaby

Jusuf Kalla

Jusuf Kalla

Foto: Republika/Raisan Al Farisi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) meminta semangat awal pendirian organisasi dagang Syarikat Islam (SI) digalakkan kembali di saat perekonomian negara sedang melambat seperti sekarang ini.

"Saya membaca khittah SI tujuannya ialah mengembangkan jiwa dagang, karena pada waktu itu (1905) perdagangan di Indonesia dikuasai oleh pengusaha besar Belanda dan Tionghoa. Kalau kita kembalikan dewasa ini, sangat relevan lagi semangat itu dikembalikan," kata Wapres Kalla saat menghadiri Pelantikan Dewan Pengurus Pusat Syarikat Islam dan Pengurus Pusat Wanita Syarikat Islam, di Jakarta, Sabtu (27/2).

Di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami perlambatan pertumbuhan sekarang ini, Wapres menilai perlu lagi mengajak anak-anak muda untuk berdagang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Wapres membandingkan kondisi pada saat pembentukan organisasi dagang tersebut, ketika pada 1905 banyak pemuda ingin bergabung dengan organisasi yang pada saat itu bernama Syarikat Dagang Islam (SDI) untuk meningkatkan perekonomian dalam negeri.

"Zaman dahulu banyak yang punya semangat tinggi, tetapi kalau pada hari ini tentu masih belum banyak para pemuda bergabung seperti SI pada masa dulu. Itulah semangat yang harus dikembalikan dalam bentuk semangat yang berbeda," katanya menjelaskan.

JK juga meminta para ustaz dan anggota SI saat ini untuk mengampanyekan perdagangan kepada para pemuda Islam, sehingga semakin banyak orang yang berdagang untuk perbaikan ekonomi.

"Saya minta para ustaz dan semua yang ada di sini untuk mengampanyekan bahwa perdagangan itu sunnah. Islam itu didirikan oleh para pedagang, Rasulullah itu pedagang. Maka kenapa sekarang zakat itu terasa kurang, karena yang mampu atau orang yang berdagang itu kurang," katanya menegaskan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA