Senin 22 Feb 2016 06:01 WIB

Belajar Antikorupsi dari Umar bin Abdul Azis

Praktek Suap (ilustrasi)
Foto:

Di negeri kita, praktik suap, pungutan liar, juga tindak pidana korupsi, sudah umum dilakukan orang. Seakan itu bukan lagi perbuatan jahat yang dikutuk Allah. Tindak korupsi dengan menilep harta rakyat sudah dianggap kuno. Masih sangat banyak modus canggih yang, bahkan, tidak terdeteksi oleh perangkat hukum.

Alquran dan hadis mengatur hukum perolehan harta, kedudukan, kegunaan, dan pertanggungjawabannya. Pada harta inilah terletak kelemahan besar manusia. Allah berfirman, ''Dan sungguh manusia itu sangat cinta pada harta kekayaan yang banyak.'' (QS 100: 8). Cinta manusia pada harta adalah jenis cinta buta. Mudah membuat lalai, tamak, bahkan tega berbuat keji.

Dalam telaahnya tentang hukum harta, KH Ahmad Azhar Basyir MA (mantan ketua PP Muhammadiyah), mengungkap dimensi akhlak, iman, dan takwa (1993). Memakan harta secara batil (korupsi atau menerima suap), katanya, akan merusak akhlak, iman, dan takwa. Allah memperingatkan dalam surat An-Nisaa' ayat 29, ''Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan batil (tidak sah), kecuali dengan perniagaan atas dasar sukarela di antara kamu.''

Pada hakikatnya tak ada harta yang bisa dimiliki manusia tanpa campur tangan Allah. Manusia menerima bagian dari Allah atas kehendak Allah juga. Siapa yang menilep bagian seseorang atau banyak orang, ia telah berbuat batil. Ketika kebatilan dilakukan secara kolektif seperti banyak terjadi di negeri kita ini dan tanpa sadar, mungkin, kita pernah ikut melakukannya kita tak perlu menunggu hari akhir untuk menerima hukuman dari Allah. Bukankah negeri ini rusak parah karena korupsi?

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement