Rabu 27 Jan 2016 18:39 WIB

LGBT Catut HAM, ini Seruan Hasyim Muzadi

Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi berpidato di sela pembukaan Konferensi Cendekiawan Muslim Internasional (ICIS) ke-4 di Aula Rektorat, Universitas Islam Maulana Maliki Ibrahim, Malang, Jawa Timur, Senin (23/11).
Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi berpidato di sela pembukaan Konferensi Cendekiawan Muslim Internasional (ICIS) ke-4 di Aula Rektorat, Universitas Islam Maulana Maliki Ibrahim, Malang, Jawa Timur, Senin (23/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Para pelaku dan pegiat lesbian, gay, biseksual dan transseksual (LGBT) mencatut hak asasi manusia (HAM) sebagai justifikasi perilaku menyimpang mereka. Aksi berlindung di balik HAM ini pun mendapat reaksi keras dari Sekjen International Conference for Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi.      

Hasyim menegaskan, konsep HAM di Indonesia belum sepenuhnya diselaraskan dengan ‘rasa’ keindonesiaan dan adat ketimuran. Konsepsi HAM itu masih mentah sebagaimana dicetuskan di Jenewa 1948. Aroma sekularistik dan tak memperhitungkan agama masih begitu kental.

Mantan ketua umum pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini, menyebutkan titik kelemahan dari HAM, yaitu ketidaksingkronan antara satu jenis kebebasan (freedom) dengan kebesasan lainnya. Akibatnya, begitu masuk ke Indonesia cenderung merusak tata keluhuran.”HAM harus diindonesiakan,” katanya kepada Republika di Jakarta, Rabu (27/1).

Menurut Hasyim, perilaku LGBT tak sesuai dengan Pancasila dan agama. Perempuan tak bisa menikah dengan perempuan, atau juga pria sesama pria. Memang, Indonesia belum memiliki aturan pemidanaan seperti yang berlaku di negara kontra LGBT, Malaysia misalnya, karena itu, langkah yang paling memugkinkan adalah merehabilitasi para LGBT.

LGBT, ungkap Hasyim, merupakan gangguan kejiwaan (psikis) yang bisa dideteksi sejak dini. Karenanya bila tak segera ditangani penyimpangan orientasi seksual ini, akan semakin akut dan sulit diobati.

Hasyim dengan tegas menolak legalisasi LGBT atau upaya apapun untuk menformalkan perilaku abnormal ini di Indonesia. Faktanya, di negara-negara yang melegalkan pernikahan sejenis, angka penyakit seksual meningkat drastis.”Kembali ke nilai agama dan Pancasila saja biar selamat,” kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement