Rabu 20 Jan 2016 05:27 WIB

Cermin Retak Pemimpin

Umar bin Khattab
Foto: Al Arabiya
Umar bin Khattab

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Iu Rusliana

Khalifah Umar bin Khattab baru saja pulang berkunjung dari Syria. Seperti biasa, Umar langsung ke lapangan seorang diri dengan menyamar layaknya orang biasa untuk melihat keadaan dan mencoba merasakan apa yang dialami rakyat.

Kali ini, Amirul Mukminin menuju ke sebuah gubuk reyot yang didiami oleh seorang nenek tua. Beliau pun mengucapkan salam dan berkata, “Apakah nenek mendengar berita tentang Umar?” “Kabarnya Umar baru saja pulang dari Syria dengan selamat,” jawab nenek tersebut sekenanya.

Beliau pun melanjutkan obrolan, “Bagaimanakah pendapat Nenek tentang khalifah kita?” tanya Umar. “Semoga Allah tidak memberikan ganjaran baik kepadanya,” jawab si nenek. Umar bertanya, “Mengapa begitu?

Ia sangat jauh dari rakyatnya. Semenjak menjadi khalifah, dia belum pernah datang ke gubukku ini, apalagi memberiku uang,” jawab nenek. Umar pun berkata, “Bagaimana mungkin dia dapat mengetahui keadaan nenek, sedangkan tempat ini jauh terpencil?

Nenek itu pun mengeluh dan berkata, “Subhanallah! Tidak mungkin seorang khalifah tidak mengetahui akan keadaan rakyatnya, walau di manapun mereka berada,” tegasnya. Mendengar kata-kata sang nenek, Khalifah Umar tersentak.

Ia meneteskan air mata dan berkata di dalam hatinya, “Celakalah aku karena semua orang dan nenek ini pun mengetahui perihal diriku.” Umar berkata lagi, “Wahai nenek, berapakah engkau hendak menjual kezaliman Umar terhadap nenek? Aku kasihan kalau Umar mati nanti ia akan masuk neraka. Itu pun jika nenek mau menjualnya.

Sang nenek menjawab, “Janganlah Engkau bergurau dengan aku yang sudah setua ini.” Amirul Mukminin kembali berkata, “Aku tidak bergurau, aku sungguh-sungguh. Berapakah Nenek akan menjualnya. Aku yang akan menebus dosanya, maukah Nenek menerima uang sebanyak 25 dinar sebagai harga kezaliman Umar terhadap Nenek.”

Sambil menyerahkan uang tersebut kepada sang nenek. “Terima kasih, Nak. Baik benar budimu,” kata si nenek sambil mengambil uang tersebut.

Sementara itu, Ali bin Abi Thalib bersama Abdullah bin Masud melewati daerah tersebut. Melihat Khalifah Umar sedang berada di sana, mereka pun memberi salam, “Assalamualaikum ya Amirul Mukminin.

Mendengar ucapan tersebut, tahulah sang nenek bahwa tamu yang berbincang dengannya tadi adalah Khalifah Umar bin Khattab.

Dengan perasaan takut dan gemetar nenek berkata, “Masya Allah, celakalah aku dan ampunilah nenek tua ini atas kelancangan tadi, ya Amirul Mukminin. Aku telah memaki Khalifah Umar di hadapannya sendiri.

Ratapan nenek tua telah menyadarkan Khalifah Umar. “Tidak apa-apa, Nek. Semoga Allah meridhaimu,” kata Khalifah. Ketika itu juga beliau membuka bajunya dan menulis keterangan berikut di atas bajunya: “Bismillaahirrahmaanirrahiimi, dengan ini Umar telah menebus dosanya atas kezalimannya terhadap nenek yang merasa dizalimi oleh Umar, semenjak menjadi khalifah sehingga ditebusnya dosa itu sebanyak 25 dinar. Dengan ini jika nenek itu mendakwa Umar di hari Mahsyar, maka Umar sudah bebas dan tak ada kaitannya lagi.

Kisah ini masyhur dan banyak dituliskan untuk mengingatkan betapa menjadi pemimpin itu butuh kesungguhan karena sedikit saja keliru, neraka siksaannya. Seringlah menggali informasi jujur dan apa adanya untuk memperbaiki kinerja layanannya.

Perkataan jujur si nenek itu ibarat cermin retak, buruk rupa kita di cermin, tapi menyadarkan. Tanggung jawab besar itu membutuhkan kawalan kejujuran dan ketulusan hati. Pemenuhan kewajiban sebaik mungkin akan mengantarkan ke pintu surga. Sebaliknya, lalai sedikit saja, neraka jadi imbalannya.

Jangan sampai fasilitas mewah dan wah yang dinikmati menjadikan mata, telinga, dan hati menjadi buta dari kritik dan sikap jujur rakyat tentang kita. Jadilah pendengar yang baik (pemimpin pendengar) karena ada kekuatan dahsyat dari kesanggupan untuk mendengar. Wallaahu a'lam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement