Selasa 05 Jan 2016 22:43 WIB

Lassana Bathily Nyaris Jadi Korban Serangan Kelompok Bersenjata Mali

Mali
Mali

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS --  Beberapa hari setelah penyerangan, Lassana Bathily diberikan kewarganegaraan Prancis langsung oleh presiden. Hal tersebut menjadi yang diimpikannya sejak kecil saat dia dibesarikan di desa kecil di perbatasan Mali-Senegal. Tetapi Bathily mengabaikan pernghargaan tertinggi Prancis Legion d'Honneur.

Sekembalinya ke tanah kelahirannya, Bathily ditawari menginap di hotel papan atas dan diundang Presiden Ibrahim Boubacar Keita. Bathily kemudian mendirikan kelompok bantuan untuk menyediakan sarana dasar bagi desanya, yang ditinggalkannya saat dia berusia 16 untuk mencari pekerjaan di Paris.

Tetapi, dia sebenarnya mengalami trauma untuk kembali ke Prancis. Dia kehilangan teman terdekatnya, Yohan Cohen. Beberapa hari kemudian, dia mendengar adik laki-lakinya Boubakar meninggal karena sakit berkepanjangan. (Baca: Kisah Lassana Bathily, Imigran yang Menjadi Pahlawan di Prancis)

Bathily hanya berada 300 meter dari tempat Bataclan di Paris ketika terjadi penyerangan pada 13 November. "Aku lari seperti orang lain, tapi terjebak dan aku tidak bisa pulang hingga pukul 05.00 pagi," kata dia.

Hanya sepakan setelahnya, kelompok bersenjata menyerang hotel Radisson Blu di Bamoko, Ibu kota Mali, yang ditempatinya selama kembali ke negara asalnya. Meski begitu, dia tetap optimistis .

"Bukan teroris yang membunuh. Jika Tuhan memutuskan bahwa saya mati, maka saya akan mati, bukan teroris yang memutuskan," kata dia.

Saat ini, Bathily kembali sekolah agar mewujudkan cita-citanya menjadi guru.  "Saya hanya meneruskan hidup saya, melanjutkan yang saya lakukan dulu," kata dia.

"Kita harus menunjukkan kesetiakawanan, tetap bersatu, maka ada harapan."

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement