Ahad 20 Dec 2015 14:55 WIB

Alumni Al Azhar se-Asia Tenggara Gelar Silaturahim

suasana silaturahim alumni universitas al azhar di kuala lumpur, malaysia
Foto: istimewa
suasana silaturahim alumni universitas al azhar di kuala lumpur, malaysia

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Demi memperkokoh persatuan umat Islam, alumni Universitaas Al-Azhar Mesir se-Asia-Tenggara menggelar Multaqa Serantau Alumni Al-Azhar di Kuala Lumpur, Malaysia.

''Silaturahim yang mengangkat tema Perpaduan Ummah merentasi Ideologi, berlangsung di Hotel Grand Seasons, Kuala Lumpur, Malaysia selama tiga hari, 16-18 Desember 2015,'' ungkap Muchlis Hanafi, alumnus Universitas Al Azhar dari Indonesia kepada Republika.co.id, Ahad (20/12).

Acara dibuka Perdana Menteri Malaysia, Dato Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak dan dihadiri tokoh-tokoh alumni Al-Azhar dari Asia Tenggara, antara lain Prof Dr M Quraish Shihab dan Dr Muchlis M Hanafi dari Indonesia, Dr H Norarfan Haji Zainal, Rektor Universiti Islam Sultan Syarif Ali Brunei da Syeikh Faishol M Leewan, Ketua Ikatan Alumni Al-Azhar Mesir Cabang Thailand.

Hadir pula Prof Dr Dato Mohd Fakhruddin, Ketua Alumni Cabang Malaysia, Datuk Seri TG Abdul Hadi Haji Awang, Presiden Partai Islam se-Malaysia (PAS), Mufti-Mufti Negeri, dan tokoh lainnya. Sementara itu, Al-Azhar Kairo mengutus Deputi Grand Syeikh Al-Azhar, Syeikh Abbas Shouman.

Menurut Muchlis Hanafi, dalam sambutannya Perdana Menteri Najib mendukung penuh upaya alumni Al-Azhar untuk mewujudkan persatuan umat dan berharap itu diwujudkan dalam bentuk yang lebih kongkrit.

''Dalam kontek perkembangan politik di Malaysia, kegiatan tersebut sangat penting dan menemukan momentumnya karena mempertemukan dua tokoh partai politik Islam Melayu terbesar; UMNO dan PAS di tengah isu perpecahan partai Islam,'' jelas Muchlis.

Dewan Pakar Pusat Studi Alquran (PSQ) ini lebih lanjut mengungkapkan, pertemuan Alumni Al-Azhar se-Asia Tenggara tersebut menghasilkan resolusi antara lain persatuan umat satu kewajiban dan perpecahan satu hal yang harus dihindari.

Perbedaan pandangan dan ideologi jika tidak ditangani dengan baik akan merusak citra islam, selain menyebabkan perpecahan, peresengketaan dan kemunduran.

''Agar perbedaan membawa kepada harmoni umat, perlu ditegakkan adab. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk bermusuhan, apalagi dengan kekerasan,'' ungkap Muchlis Hanafi menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement