Jumat 04 Sep 2015 20:59 WIB

Dua Parameter Imkanur Rukyat

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Agung Sasongko
Hilal
Hilal

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menyatakan terdapat parameter-parameter imkanur rukyat yang bisa menjadi titik temu dalam mempersatukan metode hisab dan rukyat. Seperti telah diketahui, dua metode ini kerap menimbulkan perbedaan pelaksanaan hari raya besar umat Islam terutama ketika posisi hilal berada dalam posisi kritis.

"Ada dua parameter kriteria imkanur rukyat atau visibilitas hilal. Ini salah satu yang bisa diupayakan agar menjadi titik temu dalam penyatuan kriteria hilal meski tidak menutup kemungkinan ada sumbangan pemikiran lain," ujar Thomas ketika dihubungi ROL, Kamis (4/9).

Parameter pertama, terang Thomas, terkait fisik hilal. Secara umum, dunia astronomi biasanya menggunakan acuan elongasi atau jarak bulan dan matahari serta umur hilal. Sementara parameter kedua, yakni gangguan cahaya syafaq atau cahaya yang terlihat ketika matahari terbenam.

Thomas mengatakan, berdasarkan data astronomi secara umum, elongasi bulan dan matahari minimal 6,4 derajat agar hilal bisa tampak. Menurutnya, kalau terlalu dekat dengan matahari, mata manusia dan bantuan alat sekali pun tidak bisa melihat bulan sabit.

Dengan mengacu pada data astronomi, Thomas menyampaikan ketinggian bulan minimal tiga derajat di atas ufuk untuk bisa terlihat. Thomas menekankan data-data tersebut berdasarkan kajian astronomi yang tidak hanya digunakan Indonesia tapi internasional.

Artinya, jika bulan berada pada ketinggian kurang dari tiga derajat maka hilal diragukan terlihat karena dikalahkan cahaya syafaq. "Jadi kalau ada yang mengaku melihat hilal maka sangat mungkin dia keliru dengan objek lain atau hanya persepsi pribadinya," ujar Thomas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement