Rabu 19 Aug 2015 12:35 WIB

Resep Menjadi Keluarga Sakinah Ala Sang Juara

Rep: c 16/ Red: Indah Wulandari
Menag Lukman Hakim Saifuddin berfoto sebelum memberikan sambutan pada acara penganugrahan kantor urusan agama (KUA) dan keluarga sakinah teladan tingkat Nasional 2015 Di Jakarta, Selasa (18/8).
Foto: Republika/Prayogi
Menag Lukman Hakim Saifuddin berfoto sebelum memberikan sambutan pada acara penganugrahan kantor urusan agama (KUA) dan keluarga sakinah teladan tingkat Nasional 2015 Di Jakarta, Selasa (18/8).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Keluarga M Ma’ruf Bantilan yang terpilih sebagai Juara 1 Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2015 mewakili Sulawesi Tengah, Selasa (18/8) kemarin memberikan sekelumit resep rahasia berumah tangga sakinah mawwadah warrohmah.

 “Dasar pertama yang kami pakai dalam berumahtangga adalah saling pengertian dan toleransi yang terukur,” ujar Ma’ruf, Rabu (19/8).

Bagi pria berusia 73 tahun ini, ditahbiskan sebagai keluarga sakinah teladan tingkat nasional merupakan sebuah penghargaan sekaligus tanggungjawab. Lantaran harus memberikan contoh yang baik bagi keluarga-keluarga Muslim lainnya.

Rahasianya, suami dari Nursidah ini mengajak sang istri sangat menjunjung tinggi toleransi. Nursidah contohnya, mengaku tidak pernah dibatasi oleh sang suami dalam beraktivitas. Selama kebebasan itu masih terukur seperti  bebas mencari ilmu dan sesuai dengan aturan-aturan agama.

Menurut Nursidah, banyaknya kasus perceraian yang terjadi saat ini karena istri tidak memahami kedudukannya terhadap suami di dalam agama.

“Maka, dari itu, hal yang paling utama untuk mencapai keluarga yang sakinah adalah dengan menguatkan pondasi agama,” ujar ibu empat orang anak ini.

Menurutnya, menanamkan nilai-nilai serta ajaran keagamaan sangat penting untuk dilakukan Dalam upaya membentuk keluarga sakinah. Pengaruh-pengaruh yang tidak baik akan mudah dihindari jika keluarga sudah kuat pondasi agamanya.

Ajaran agama tidak cukup hanya diketahui dan dipahami, akan tetapi harus dapat dihayati dan diamalkan oleh setiap anggota dan saling mengingatkan serta  saling memberi keteladanan baik satu sama lainnya.

“Dengan demikian kehidupan dalam keluarga tersebut dapat mencerminkan suatu kehidupan yang penuh dengan ketentraman, keamanan dan kedamaian,” papar Ma’ruf yang juga merupakan Rektor Universitas Madako Tolitoli ini.

Ma’ruf menambahkan, apabila keluarga sebagai embrio sebuah negara telah mencapai kesejahteraan, maka negara tersebut juga akan menjadi sejahtera,aman dan tentram.

Selain agama, Ma’ruf dan Nursidah juga menegaskan pentingnya pendidikan kepada anak-anak mereka. Ma’ruf selalu mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa untuk mencetak sebuah bangsa yang besar harus dimulai dengan mencetak generasi yang  berkualitas.

Dalam mendidik anak, pasangan suami istri ini bisa dikatakan sukses mencetak generasi berkualitas karena selalu mendukung anaknya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya.

Selama menajalani biduk rumahtangga hingga mencapai usia pernikahan 45 tahun, diakui Ma’ruf bukanlah perkara yang mudah. Banyak kendala dan ujian yang mereka hadapi dikarenakan perbedaan-perbedaan karakter dan pengetahuan.

Namun, kata Ma’ruf semua ujian tersebut harus dihadapi dan dimaknai dengan positif. “Ujian itu harus kita sikapi karena kita mau naik pangkat,” ujar Ma’ruf.

Dalam menyelesaikan permasalahan, Ma’ruf mengaku selalu mengutamakan cara-cara musyawarah dan diskusi. Ramuan-ramuan inilah yang membuat kehidupan keluarganya menjadi tentram dan sejahtera.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement