Jumat 05 Jun 2015 05:36 WIB

Islam Makin Berkembang di Prancis Pascaserangan Charlie Hebdo

Rep: C38/ Red: Angga Indrawan
Muslim Prancis. Ilustrasi
Foto: .
Muslim Prancis. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Survey yang dilakukan oleh Pew Research Center menunjukkan, hampir enam bulan pasca serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo, persepsi orang terhadap Muslim yang tinggal di Prancis telah meningkat lebih baik. Laporan Islamofobia, disebut telah mengalami penurunan signifikan.

Dilansir IBTimes, Kamis (4/6), Pew menemukan, 76 persen orang Prancis memiliki pandangan baik terhadap Muslim yang tinggal di negara mereka. Angka itu meningkat dari 72 persen pada tahun 2014. 

Serangan Januari lalu di kantor Charie Hebdo, sebuah majalah satir yang acapkali menghina Nabi dan tokoh-tokoh lain, adalah insiden terror paling mematikan di Paris selama lima dekade. Serangan ini menewaskan 12 orang dan melukai 11 lainnya.

Pascaserangan itu, muncul perdebatan tentang prevalensi radikalisasi di antara hampir 5 juta Muslim yang tinggal di Prancis. Tetapi, menurut Pew, bahkan serangan balasan, seperti yang terlihat di AS setelah 11 September 2011 tidak pernah terjadi. 

Sebaliknya, survey menunjukkan bahwa sikap terhadap umat Islam menjadi sedikit lebih positif dibandingkan tahun lalu. 

“Ini masih harus dilihat apakah peningkatan sikap Prancis terhadap minoritas Muslim negara itu akan terus terjadi. Tapi, topik Islam di masyarakat Prancis pasti akan menjadi masalah penting karena negara bergerak menuju pemilihan pesiden pada 2017 mendatang,” ujar Richard Wike, salah satu peneliti Pew Institute. 

Wike menambahkan, meski sementara tidak ada reaksi publik yang terjadi di Prancis, kekerasan terhadap Muslim meningkat setelah serangan di Charlie Hebdo. Minoritas warga Prancis yang berpandangan sangat negatif tentang Islam cenderung lebih mudah melakukan kekerasan setelah insiden tersebut. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement