Selasa 26 May 2015 16:19 WIB

Australia Mulai Akui Hak Komunitas Muslim

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Agung Sasongko
Muslim Australia
Foto: Australia Plus
Muslim Australia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Peneliti dari Institut Agama, Politik dan Masyarakat Australian Catholic University (ACU), Dr Joshua M. Roose mengatakan, saat ini kondisi masyarakat Australia begitu berama. Karena itu, pemerintah Australia memiliki kebijakan empat prinsip utama.

Hal itu dilakukan untuk menjaga persatuan masyarakat yang harmoni dan memelihara nilai-nilai demokrasi. Salah satu dari empat prinsip utama tersebut adalah adanya pengakuan di bidang ekonomi, perdagangan, dan investasi. Hal ini berdampak baik bagi minoritas Muslim.

Setidaknya, rata-rata rumah tangga Muslim di Australia memiliki pendapatan 400 hingga 599 dolar atau Rp 4,1 hingga 6,2 juta per pekan. Selain memiliki perekonomian yang mencukupi, Muslim Australia juga mengenyam pendidikan yang baik berkat dibukanya kesempatan untuk semua. "Muslim rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang semakin meningkat di tingkat tersier (ketiga,red)," kata Roose.

Maksudnya, peningkatan terjadi di tingkat perguruan tinggi baik program keahlian, Diploma, Sarjana hingga Pasca Sarjana. "Muslim juga memiliki project identities," kata dia.

Perkembangan Muslim di Australia tersebut terlihat dengan adanya Salam Cafe, beasiswa Shekh Fehmi oleh Bank Nasional Australia, investasi Islami (syariah) yang dilaunching Crescent Wealth, musik hip hop Muslim oleh the Brothahood dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, Muslim Australia juga menjelma menjadi beberapa publik figur seperti penulis dan produser televisi Peter Gould, penulis buku Randa Abdel Fatah yang merupakan keturunan muslim palestina dan Mesir dan jurnalis ternama Waleed Aly.

Banyak pula Muslim yang menjadi pekerja profesional, pengusaha, intelektual, atlet bahkan menjadi bankir seperti Muslim asal Lebanon, Ahmad Fahour.

Sayangnya, dibalik kondisi baik tersebut, Muslim di Australia juga menjadi penyumbang anggota militan ISIS di Suriah dan Irak yang cukup besar. Tidak hanya itu, perlawanan juga terjadi di tetangga negara Selandia Baru tersebut seperti tindak terorisme domestik dan Salafi Islam Konservatif.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement