Ahad 15 Mar 2015 06:00 WIB

Isabelle Eberhardt, Muslimah yang Menulis dan Mengembara (1)

Rep: c 24/ Red: Indah Wulandari
Isabelle Eberhardt
Foto: wikimedia
Isabelle Eberhardt

REPUBLIKA.CO.ID,Meski terkesan bernama Jerman, Isabelle Eberhardt lahir di Jenewa, Swiss pada tahun 1877.  Ia keturunan Rusia, dari seorang bapak Rusia Muslim dan seorang ibu penganut Kristen.

Tidaklah benar orang yang menulis tentang Isabelle, bahwa ia menganut Islam sesudah tinggal di Aljazair. Ia seorang Muslim sejak dilahirkan. Sedang yang menganut Islam kemudian, adalah ibunya yang tadinya beragama Kristen, atas desakan dan pengaruh anaknya pula. 

Semasa kecilnya, ia punya kecenderungan hanya ingin mempelajari bahasa-bahasa. Baru saja dia berumur 15 tahun sudah lancar berbahasa Rusia, Prancis, Jerman dan Arab. 

Pada mulanya ia ingin meneruskan ilmu kedokteran. Tetapi, keinginan itu kemudian ditinggalkanya. Ia lebih memilih hidup mengembara, mengembara ke seluruh dunia, dimulai dari Afrika Utara, atau lebih tepatnya, Aljazair. 

Untuk menjadi seorang pengembara yang akan berhadapan dengan bahaya, dasar-dasarnya sudah ada pada Isabelle. Ia dibesarkan di bawah asuhan pamannya, seorang yang berpengetahuan luas dan sudah berpengalaman. 

Pamannya itu berpendapat, bahwa gadis Isabelle harus hidup sebagai seorang pemudi, harus dilatih memikul pekerjaan-pekerjaan berat yang biasanya dikerjakan kaum pria, dan harus banyak pula berlatih dalam pelbagai olah raga, supaya lebih mudah ia nanti berhadapan dengan hidup yang pasti akan dihadapinya. 

Isabelle pun menjadi gadis yang tomboy. Sejak dari perjalananya yang pertama ke Aljazair, ia selalu mengenakan pakaian laki-laki yang tidak umum dipakai oleh gadis-gadis pada masa itu. Ia juga sudah pandai menunggang kuda, serta ikut dalam pelbagai macam perlombaan. 

Untuk jaminan hidupnya, ia tak perlu lagi bekerja, karena sudah memiliki kekayaan sekadarnya. Sesudah tinggal tidak seberapa lama di Onnaba dan sekitarnya, ia kembali lagi ke Swiss, untuk kemudian kembali lagi pindah dan menetap di Afrika Utara.

Pada tahun 1900, berangkatlah ia menuju Aljazair. Pada waktu itulah dia memulai perjalananya yang berbahaya di padang pasir yang membentang luas, terus ke sebelah timur ke Tunisa dan ke sebelah barat ke Maroko. Pada waktu itu ia baru berumur 25 tahun. Tetapi, sayang pengembaraannya itu tidak lebih dari empat tahun saja. 

Ia lebih suka menyendiri, seperti yang dinyatakannya sediri dalam memorinya yang dikutip dari Onislam.

"Waktu yang paling bahagia bagiku, bila aku tinggal seorang diri, jauh dari semua manusia, sekalipun manusia terdekat kepadaku. Setiap aku menjauhkan diri dari mereka, aku merasa lebih bahagia. Dan bila aku mendekati mereka, aku merasa sedih lagi."

Mungkin juga karena sikapnya yang demikian itu Isabelle Eberhardt lebih suka berpetualang. Ia memilih sahara, sebab di tempat itu, tidak ada kota, tidak ada rumah tidak ada manusia.   

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement