REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Sebagian santri dan walinya, menilai tata tertib yang diberlakukan SMP Ar Rohmah Putri, di Dawu, Malang Jawa Tinur, terlalu ketat. Namun, itu semua untuk kebaikan para santri dan merekalah yang memperoleh manfaatnya kelak.
Kepala Asrama SMP Ar Rohmah Putri, Ustadzah Sakinah, berkeluh kesah tentang hal itu dalam pertemuan wali santri di Malang, Ahad (12/12). Pertemuan itu merupakan pertemuan rutin terkait pembagian rapor hasil ujian tengah semester. Sekitar 1.800 orang wali santri hadir di pertemuan itu.
"Kami menyadari, orang tua begitu mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Kini tanggungjawab membina mereka diamanatkan pada kami, jadi percayalah pada kami," kata Sakinah.
Setiap lembaga pendidikan memiliki perbedaan-perbedaan. Termasuk kata Sakinah, perbedaan dalam hal tata tertib dan ketaatan melaksanakannya. Namun apa yang sudah dibuat di SMP Ar Rohmah Putri, bertujuan untuk menunjang keberhasilan tujuan pendidikan di sekolah milik Ormas Hidayatullah itu.
Sejumlah tata tertib diberlakukan bagi seluruh santri Ar Rohmah Putri. Selama mengikuti pendidikan di jenjang tsanawiah (SMP) dan atau aliah (SMA), mereka harus diasramakan tanpa pandang bulu. Ketentuan di asrama inilah yang dinilai sejumlah orang tua siswa terlalu ketat.
Ada aturan para santri tidak boleh membawa alat komunikasi apa pun selama di asrama. Juga santri hanya boleh dikunjungi sebulan sekali untuk diajak keluar asrama yang dkenal dengan kunjungan panjang (KP). Kegiatan keluar itu hanya dengan orang tua atau wali yang tercatat dalam registrasi sekolah.
Peraturan-peraturan itulah yang kerap didengar Sakinah, diprotes oleh wali santri, dengan alasan terlalu ketat. Namun penerapan disiplin itu kata Sakinah, semuanya untuk kebaikan para santri. "Bayangkan saja kalau setiap santri membawa ponsel, bagaimana kami mengawasi, berbicara dengan siapa dan berbicara apa," katanya.




