Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Bekam Pengobatan yang Mendunia (2)

Selasa 12 Aug 2014 21:58 WIB

Red: Chairul Akhmad

Praktik bekam di Rumah Sehat Albani, Ramawangun, Jakarta Timur.

Praktik bekam di Rumah Sehat Albani, Ramawangun, Jakarta Timur.

Foto: Republika/Agug Supriyanto/ca

Oleh: Hannan Putra     

Metode pengobatan Cina kuno ternyata juga menggunakan metode bekam. Seperti disebutkan Alexis Black dalam bukunya, Ancient Chinese Technique of Cupping Offers Pain Relief Without Drugs or Surgery, metode bekam sudah ada di Cina pada abad ke-18.

Mereka menyebutnya dengan istilah “perawatan tanduk”, karena alat bekam yang dipakai berasal dari tanduk sapi atau kerbau. Media yang dipakai juga mirip dengan yang digunakan di zaman Rasulullah yang juga menggunakan tanduk. Ada pula para sahabat yang membuat alat bekam dari tulang unta atau gading gajah.

Seorang Herbalis Cina, Ge Hong (281-341 M), dalam bukunya, A Handbook of Prescriptions for Emergencies, menambahkan, di Cina sendiri metode bekam sudah lama dipergunakan untuk mengeluarkan penyakit bisul. Mereka menyebutnya teknik “jiaofa”. Demikian pula ketika Cina dipimpin Dinasti Tang, bekam dipakai untuk pengobatan TBC paru-paru.

Berbeda halnya dengan Eropa. Menurut Alexis, media bekam yang digunakan di Eropa memanfaatkan lintah yang dikenal dengan istilah leech therapy. Terapi itu masih dipergunakan hingga sekarang.

Karena hanya spesies tertentu dari lintah yang bisa dipergunakan untuk bekam, Prancis sengaja mengimpor 40 juta lintah setiap tahunnya untuk tujuan bekam. Metode yang diterapkan di Eropa, lintah tersebut dibiarkan kelaparan tanpa diberi makan.

Selanjutnya, lintah tersebut dilekatkan ke tubuh pasien tepat di titik-titik bekam. Setelah lintah kekenyangan menghisap darah kotor si pasien, lintah tersebut akan terlepas dan jatuh dengan sendirinya.





BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA