Selasa 27 May 2014 20:21 WIB

Hukum Menjual Kotoran Hewan

Hewan ternak.
Foto: Republika/Musiron/c
Hewan ternak.

Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama

Pertanyaan:

Apa hukumnya menjual kotoran hewan seperti kotoran ayam, kambing, atau lembu? Kalau boleh mohon dijelaskan.

Jawaban:

Guna memenuhi kebutuhan hidup, banyak diantara kita yang menjalankan profesi dan bergerak di sektor perdagangan yang meniscayakan adanya berbagai barang (komoditas) yang diperjualbelikan.

Dalam pandangan ulama madzhab Syafi’i, barang yang diperjual belikan harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah barang tersebut harus suci dan bermanfaat. Mengingat kotoran ayam, kambing dan lembu dalam madzhab Syafi’i dihukumi najis oleh sebagian ulama, maka jual beli barang-barang tersebut dinyatakan tidak sah.

Namun ulama Syafiiyah atau pengikut madzhab Syafi'i memberikan tawaran solusi begini: Barang-barang ini dapat dimiliki dengan cara akad serah terima barang yang ditukar dengan barang lain tanpa transaksi jual beli.

Sebenarnya ada pandangan ulama madzhab Hanafi yang membolehkan proses jual beli kotoran-kotoran hewan tersebut, karena ada unsur manfaat di dalamnya. Adapun dasar pengambilan hukum yang kami gunakan adalah: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh.

“Dan ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan syarat ini (barang yang dijual-belikan harus suci, bukan najis dan terkena najis). Maka mereka memperbolehkan jual-beli barang-barang najis, seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan.”

“Kecuali barang yang terdapat larangan memperjual-belikannya, seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah, sebagaimana mereka juga memperbolehkan jual-beli binatang buas dan najis yang bisa dimanfaatkan untuk dimakan.”

“Dan parameternya menurut mereka (ulama Hanafiyah) adalah, semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.’, maka boleh menjual-belikannya. Sebab, semua makhluk yang ada itu memang diciptakan untuk kemanfaatan manusia.”

Demikian jawaban yang bisa kami sampaikan. Mudah-mudahan dengan jawaban ini, kita lebih bijak dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement