Oleh: Syahruddin El-Fikri
Perpaduan dengan budaya lokal
Kini, arsitektur Islam berkembang begitu luas, baik di bangunan sekular (gedung, rumah, perkantoran) maupun bangunan keagamaan.
Seiring perkembangan zaman, arsitektur Islam yang turut mewarnai hampir seluruh pendirian bangunan kini makin kaya khazanah dengan perpaduan antara arsitektur Islam dan budaya Roma, Persia, Cina, dan lainnya.
Sehingga, konsep arsitektur Islam— terkadang—malah tak tampak dari luar. Perpaduan yang kental dengan budaya lokal menjadikan arsitektur Islam semakin kaya dengan ragam model dan bentuknya.
Arsitektur Islam tak hanya berupa kubus (persegi empat), tapi beragam bentuk. Misalnya, kubah masjid. Bila sebelumnya hanya terbatas pada model atap sebuah bangunan tempat ibadah, belakangan ini makin berkembang dengan diterapkannya pada sejumlah bangunan.
Model atap dengan bentuk kubah yang berasal dari suku Eskimo ini kini semakin banyak digemari. Berbagai atap stadion olahraga menggunakan model ini.
Sementara itu, dengan budaya lokal Nusantara, arsitektur Islam berpadu dengan budaya Hindu-Jawa. Bangunan atap masjid di Jawa, umumnya, menggunakan tingkat tiga. Bangunan model ini melambangkan nilai-nilai Islam, iman ,dan ihsan.
Dan, ketika berpadu dengan budaya Cina, arsitektur Islam pun tampil dalam balutan budaya Tiongkok. Keragaman budaya tersebut makin memperkaya khazanah arsitektur Islam.
Namun demikian, pengaruh lokal dan asing terkadang juga dapat menghilangkan seni arsitektur Islam yang syarat dengan nilai-nilai keagamaan. Seperti diungkapkan arsitektur kondang, Garry Martin, jangankan di negara lain, perkembangan arsitektur Islam di Timur Tengah kini mulai tergerus oleh budaya asing (Barat).
“Kekayaan minyak yang melimpah serta perubahan sosial dan politik telah mengancam tradisi dan kebudayaan Islam. Krisis identitas itu telah tampak pada desain arsitekturalnya,” papar Martin.
Disinilah tugas dan tanggung jawab setiap Muslim untuk turut menjaga kelestarian budaya dan seni arsitektur Islam.




