REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ani Nursalikah
Sejak berislam, keluarga ini semakin religius.
Segala sesuatu tampak serba diatur oleh Penguasa Alam Semesta, begitu kesimpulan Chris Tarantino saat memutuskan untuk berislam.
Bagaimana tidak, pria kelahiran Kissimmee, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, itu tak tebersit sedikit pun untuk berikrar syahadat. Semua bermula dari perang. Ya, perang.
Chris terdaftar di Angkatan Darat pada 1998, sebelum kelompok Islam radikal menyerang New York dan Washington DC. Dia pernah ditugaskan berperang di dua negara Muslim.
Selama satu dekade bertempur di negara-negara Muslim, beberapa tentara terkadang harus dihadapkan dengan persepsi negatif para tentara yang bertugas di daerah-daerah Muslim tersebut adalah musuh kaum Muslim.
Meski dia mengatakan tidak pernah mempunyai perasaan positif atau negatif tentang Muslim, bahkan ketika menuju ke Irak. Sebagai prajurit, ia hanya menjalankan perintah.
Doktrin yang ia terima, ketidaktahuan adalah kebahagian. Ia pun merasa sangat bodoh saat itu. ”Yang saya tahu adalah kami akan memerangi terorisme,” katanya.
Penugasannya ke Irak pada 2006 menjadi embrio awal persinggungan Chris dengan Islam, sekalipun ia tak menyadarinya secara langsung.
Sang istri, Cristina Tarantino, mulai mempertanyakan tentang hidup dan mati. Pertanyaan inilah yang kemudian menuntunnya kepada Islam.
Cristina betul-betul takut sesuatu yang buruk akan menimpa suaminya dalam tugas. Dia mulai bertanya-tanya apa yang terjadi setelah kematian dan bagaimana menjalani hidup terbaik di bumi.
Dia menghabiskan waktu dengan kakak perempuannya yang telah masuk Islam setelah menikah dengan seorang warga Palestina.
Dia mencari bimbingan dari kakaknya. Jawaban-jawaban kakaknya tentang Islam sangat masuk akal bagi Cristina. Dia juga merasakan ketenangan.
Di sela-sela komunikasi lewat sambungan telepon dengan suaminya di Camp Taji, Irak, keduanya berdiskusi perihal kemajuan spiritual yang dialami istrinya.
Chris Tarantino tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat sang istri mengatakan ia telah menerima Islam.
Pertanyaan pertamanya kepada sang istri adalah apakah ia telah mulai mengenakan jilbab. Saat itu, Cristina mengatakan belum siap untuk berjilbab. Chris tidak banyak bertanya pada istrinya. Alih-alih, ia selalu memohon petunjuk dalam doanya.
Beberapa tahun kemudian, saat ia ditugaskan kembali ke Irak pada 2010, tentara berambut pirang dan bermata biru itu akhirnya memutuskan berislam.
Dengan jiwa kesatria, Cris Tarantino memproklamasikan keislamannya. “Menjadi Muslim bukanlah akhir dari dunia," kata dia penuh bahagia.