Ahad 04 May 2014 15:45 WIB

Membangun Pendidikan Islam Modern (2-habis)

Madrasah Islam tempo dulu (ilustrasi).
Foto: Youtube.com
Madrasah Islam tempo dulu (ilustrasi).

Oleh: Syahruddin El-Fikri

Tak hanya di Baghdad, kota-kota lainnya di sekitar Irak juga berkembang menjadi pusat peradaban Islam dan ilmu pengetahuan.

Di antaranya, Samarra, Mosul, Kufah, dan Basrah. Di beberapa kota ini juga didirikan madrasah nizhamiyah yang menjadi cabang dari madrasah yang ada di Baghdad.

Tak heran, bila kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di Baghdad ini melahirkan ilmuwan-ilmuwan Islam terkenal, seperti Ibnu Sina dan al-Razi (kedokteran), al-Fazari dan al-Fargani (astronomi), Abu Ali al-Haitami (optik), Jabir Ibn Hayyan (kimia), al-Farabi dan Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat.

Pemikiran para ilmuwan Islam ini banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan di negara-negara Barat.

La Strange dalam bukunya Baghdad During the Abbasid Calipate, menyebutkan, madrasah nizhamiyah yang didirikan oleh Dinasti Abbasiyah itu merupakan lembaga pendidikan yang sangat istimewa.

Bagaimana dengan pendidikan Islam masa kini, termasuk di Indonesia? Banyak hal yang harus selalu dikembangkan. Pada abad ke-13 hingga 19 Masehi, lembaga pendidikan Islam seperti pesantren mampu melahirkan para ulama dan tokoh Muslim yang mampu mewarnai sejarah perjalanan bangsa ini.

Sebut saja, Syekh Nawawi al-Bantani, KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahab Hasbullah, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Yasin Padang, Ahmad Khatib Sambas, Syekh Mahfudz at-Tirmasi, dan Syekh Abdusshomad Palembang.

Mereka adalah ulama dan tokoh-tokoh Islam yang cukup dikenal di berbagai negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Karya-karya mereka, antara lain, Safinatun Naja, Nur al-Zhalam, dan Sabilal Muhtadin banyak dipelajari para penuntut ilmu di berbagai negara hingga sekarang ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement