Oleh: Rosita Budi Suryaningsih
Nasyid sampai saat ini baru berhasil menunjukkan eksistensinya hanya pada Ramadhan atau paling maksimal pada hari besar keagamaan Islam saja.
Cara berdakwah Islam sangat kaya. Bisa melalui seni dengan lagu-lagu, seperti nasyid atau dengan kumpulan puisi, seperti yang dilakukan Jalaluddin Rumi.
Sekitar tahun 870-an, seorang cendekiawan Muslim bernama al-Farabi menelurkan karya berjudul Al-Musiqo. Ini berarti musik atau nyanyian. Ini nasyid.
Menurut Ustaz Erick Yusuf, sebenarnya seni berdakwah melalui nasyid pantas untuk diteruskan, bahkan dikembangkan untuk menjadi lebih besar lagi. Namun sayang, pada kenyataannya seni nasyid semakin memudar.
Jika dulu nasyid bisa booming dan menjadi popular, ini karena industri musik Indonesia juga sedang berada di puncaknya. Kaset pun laris terjual. “Saat itu, jumlah pemusik juga sedikit jadi mudah untuk menjadi populer,” katanya.
Situasinya sangat berbeda sekarang ini. Kini, para pemusik, termasuk untuk musik nasyid, jumlahnya sangat banyak. Namun, industri musiknya yang sedang tidak bagus. Tidak hanya pada nasyid, tetapi juga semua aliran musik industrinya semakin melempem. “Ini membuat seakan-akan para pemusik nasyid tidak ada, padahal sebenarnya banyak,” katanya.
Ketua Umum Asosiasi Nasyid Nusantara Alamsyah Agus, menuliskan pada laman mqfmnetwork mengakui jika pesona musik nasyid semakin memudar. Nasyid hanya banyak dilantunkan ketika bulan suci Ramadhan tiba. “Sedangkan, bulan-bulan lain nasyid sangat jarang terdengar,” tulisnya.
Menjelang Ramadhan, barulah khalayak bisa menyaksikan festival nasyid, lomba nasyid, parade nasyid, dan kegiatan yang sejenisnya, namun pada bulan-bulan lain hampir tidak ada. Biasanya, gegap gempita nasyid akan hilang begitu memasuki bulan Syawal.
“Nasyid sampai saat ini baru berhasil menunjukkan eksistensinya hanya pada bulan Ramadhan atau paling maksimal pada hari besar keagamaan Islam saja,” kata pria mantan personel grup nasyid Snada ini.
Menurutnya, eksistensi nasyid juga mendapatkan tantangan berat justru dari dalam tim nasyid sendiri. Antara lain, pemahaman tentang nasyid yang tidak sama, tidak memiliki visi yang jelas, juga banyak di antara personelnya yang lupa pada tujuan awal bernasyidnya.




