Kamis 06 Mar 2014 13:25 WIB

Tentang Wahdatul Wujud (4)

Ilustrasi
Foto: Deviantart.com
Ilustrasi

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Yang Pertama (al-Haq) dan yang kedua (al-khalq) saling membutuhkan. Tuhan memerlukan sang hamba jika Dia harus menjadi Tuhan, dan sang hamba memerlukan Tuhan jika dia harus menjadi hamba. Keduanya bagaikan laut serta ombaknya, dan matahari serta cahayanya.    

Dalam konteks ini, menurut Ibn 'Arabi—dan ini yang banyak ditentang oleh para teolog—Tuhan butuh terhadap makhluk karena eksistensi sebuah kata meniscayakan sebuah kata lainnya, atau di dalam hubungan polaritas-dialektis, eksistensi satu sisi meniscayakan eksistensi sisi lainnya.

Bukankah tidak akan ada budak tanpa ada tuan, tidak ada Rab tanpa marbub, tidak ada Ilah tanpa ma'luh, tidak ada makhluq tanpa Khaliq, dan tidak ada ma'lum (objek pengetahuan) tanpa 'alim (subjek yang mengetahui)?

Tentu demikian pula sebaliknya, sulit membayangkan adanya tuan tanpa ada budak, ada marbub tanpa ada Rab, adanya Khaliq tanpa ada makhluq, dan adanya 'alim tanpa ada ma'lum.

Alasan para sufi berpendapat demikian karena bukankah nama-nama dan sifat Tuhan memerlukan adanya berbagai lokus atau tempat memanifestasikan dan mengaktualisasikan diri? Dengan kata lain, tanpa lokus maka nama-nama dan sifat Tuhan tidak mungkin dapat teraktualisasi. Jika itu semua tidak bisa teraktualisasi, maka menjadi tidak berarti nama-nama dan sifat itu.

Jika nama-nama dan sifat itu tidak punya arti, maka untuk apa Tuhan memperkenalkan kapasitas wahidiyat-Nya? Padahal, dalam artikel-artikel terdahulu sudah dijelaskan bahwa Tuhan dengan penuh perencanaan menciptakan makhluknya untuk mengenal diri-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi yang terkenal dalam dunia tasawuf itu.

Dalam pandangan Ibn Arabi, perwujudan segala sesuatu (a'yan) merupakan manifestasi 'aradh, dan 'aradh merupakan manifestasi dari jauhar, dan jauhar manifestasi dari al-Haq (al-Haqiqah al-Wujud).

Dari sinilah sebabnya mengapa Ibnu Arabi enggan menyebut al-Khaliq dan al-makhluq, tetapi lebih suka menyebut istilah al-Haq untuk Tuhan dan al-khalq untuk makhluk termasuk manusia, karena garis demarkasi antara al-Khaliq dan al-makhluq sangat tipis atau tidak jelas.

Mungkin yang paling dekat dapat dijadikan ukuran ialah antara al-A'yan al-Tsabitah yang sering juga disebut al-A'yan al-Dakhiliyyah (walaupun ini sebetulnya tidak terlalu tepat) dan al-A'yan al-Kharijiyyah (lihat kembali artikel terdahulu, "Apa Itu al-A'yan al-Tsabitah").

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement