Rabu 05 Mar 2014 17:59 WIB

Masjid Mohammed Jassim al-Saddah, Kolaborasi Modernitas dan Lokalitas (1)

Masjid Mohammed Jassim al-Saddah, Kuwait.
Foto: Virtualsacredspace.blogspot.com
Masjid Mohammed Jassim al-Saddah, Kuwait.

Oleh: Mohammad Akbar

Pemilihan warna-warna lembut menumbuhkan kesan tenang, nyaman, dan lapang.

Serombongan burung bertengger di sebuah atap bangunan. Di bawah cerahnya langit biru dan berawan putih, burung-burung itu sungguh melengkapi nuansa keindahan di tempat itu, yang terekam dalam sebuah foto.

Burung-burung camar yang tampak kecil dari kejauhan itu memang bukan pusat perhatian dalam foto tersebut. Yang menjadi pusat perhatian adalah bangunan berkubah setengah lingkaran dengan menara berbentuk bujur sangkar. Masjid Agung Mohammed Jassim al-Saddah, demikian nama yang tersemat pada bangunan megah itu.

Berada di Distrik Dahiat Abdullah al-Salem, Kuwait, masjid yang berdiri di atas lahan seluas 2.800 meter persegi ini merupakan salah satu dari beberapa masjid bergaya modern di negeri kaya minyak itu.

Melihatnya sekilas, kita akan segera menangkap nuansa gaya minimalis modern yang digarap secara apik oleh arsitek berusia 25 tahun, Jassim Mohammed al-Saddah.

Jassim adalah putra dari Mohammad al-Saddah, menteri Industri dan Energi Kuwait. Pada masjid ini, Jassim menghadirkan konsep utama yang berkisar pada keesaan Allah SWT melalui penggunaan lingkaran yang dikemas secara berulang-ulang.

Bentuk kesinambungan itu kemudian disandingkan dengan penggunaan satu pola dan tipe huruf yang sejenis pula. Pola sejenis itu bisa terlihat di hampir semua bagian bangunan, termasuk kubah dan pelapis bagian luar menara. Pola itu dibentuk dari enam lingkaran yang membentuk pola segi enam (heksagonal).

Model semacam ini jelas sekali mengadopsi desain arsitektural khas Arab, Mashrabiya. Pola ini kemudian menyebar sehingga menjadi ornamen dekoratif di hampir seluruh permukaan dinding, baik yang terbuat dari beton, kayu, maupun metal. Ornamen dekoratif yang sama juga tampak hingga ke atap kubah dan menara.

Untuk memperkuat aksen religius, dihadirkan huruf-huruf Arab bertuliskan 99 nama Allah (Asmaul Husna). Asmaul Husna ini ditulis dengan kaligrafi jenis Kuffi. Huruf-huruf kaligrafi berbentuk kotak yang menghiasi langit-langit dan dinding interior masjid ini terasa sangat pas dengan desain modern minimalis yang diaplikasikan pada bangunan ini.

Untuk pemilihan warna, Jassim tampaknya lebih suka pada warna yang tidak mencolok. Maka, tampillah warna-warna kalem dan lembut, seperti putih, abu-abu, krem, serta biru kobalt. Dari sejumlah warna itu, putih dan abu-abu adalah yang paling dominan.

Pada eksterior, warna ini menghiasi hampir seluruh permukaan dinding. Sebagian aksen di eksterior, Jassim menampilkan bebatuan, yang merupakan salah satu ciri khas ornamen masjid pada masa Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement