Senin 03 Feb 2014 20:16 WIB

Melongok Islam di Filipina

Muslim Filipina (ilustrasi).
Foto: cryptome.org
Muslim Filipina (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ani Nursalikah

Islam adalah agama tertua di Filipina. Islam masuk berkat banyaknya pedagang Muslim dari Teluk Persia, India Selatan, dan sejumlah kesultanan dari Indonesia dan Malaysia. Mereka adalah kaum saudagar yang berdagang hingga ke Filipina pada abad ke-14.

Data yang diperoleh dari Laporan Kebebasan Beragama Internasional Departemen Luar Negeri AS pada 2010, populasi Muslim di Filipina sekitar sembilan persen. Mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik Roma.

Karimul Makhdum adalah pedagang Arab pertama yang datang ke Kepulauan Sulu dan Jolo di Filipina pada 1380 M. Pada 1390 Pangeran Rajah Baginda Minangkabau dan para pengikutnya mengajarkan Islam di pulau-pulau tersebut.

Masjid Syehk Karimal Makhdum merupakan masjid pertama yang didirikan di Filipina di Simunul, Mindanao, pada abad ke-14.

Permukiman yang dihuni pendakwah dari Arab yang bepergian ke Malaysia dan Indonesia membantu memperkuat Islam di Filipina. Setiap permukiman dikepalai seorang datu, raja, dan sultan.

Karena pesatnya perkembangan Islam, akhirnya didirikanlah provinsi Islam. Provinsi Islam di Filipina adalah Kesultanan Maguindanao, Kesultanan Sulu, Kesultanan Lanao, dan sebagian lain di Filipina selatan.

Ketika armada Spanyol yang dipimpin Miguel López de Legazpi tiba di Kerajaan Maynila, mereka bertemu dengan Rajah Sulaiman III.

Satu abad berikutnya, Islam telah mencapai Kepulauan Sulu di ujung selatan Filipina yang penduduknya belum memeluk agama apa pun (animisme).

Pada abad ke-15 setengah bagian dari Luzon (Filipina Utara) dan pulau-pulau Mindanao di selatan tunduk pada berbagai kesultanan Muslim Borneo. Karena itulah, banyak penduduk di selatan yang menyatakan memeluk Islam.

Selama masa pemerintahan Sultan Bolkiah pada 1485-1521, Kesultanan Brunei melihat Manila sebagai pelabuhan alami. Sultan Brunei ini mencoba memiliki bagian dari Tondo sebelum perdagangan dari Cina masuk.

Caranya, dengan menyerang daerah sekitarnya dan membangun kesultanan sendiri di Kota Seludong. Islam semakin kuat dengan kedatangan para pedagang Muslim dari Jolo, Mindanao, Malaysia, dan Indonesia.

Di Filipina, Islam memperkenalkan struktur politik yang sangat berkembang, yakni kesultanan. Struktur sosial tradisional Muslim Filipina dipimpin seorang sultan yang diasumsikan sebagai otoritas di bidang agama dan sekuler.

Sedangkan, datu dianggap sebagai pemimpin komunal. Dia memberi bantuan dan arbitrase melalui pengadilan agama di bawah kepemimpinannya.

Atas bantuannya, datu mendapatkan bantuan, pekerjaan, dan perlindungan bila diperlukan dari rakyatnya. Menariknya, seorang datu tidak ditentukan dari kekayaan yang ia miliki, tetapi oleh jumlah pengikutnya.

Asimilasi penjajah Spanyol hanya berhasil menciptakan perpecahan antara umat Kristen Filipina di bawah kekuasaan Spanyol dan masyarakat Muslim yang menolak penaklukan.

Hal yang sama terjadi saat rezim Amerika di mana Muslim dimusnahkan pasukan militer ketika umat Islam menolak penaklukan dan menolak eksploitasi sumber daya di wilayah Mindanao. Amerika kemudian menyadari proses itu sia-sia.

Namun, selama beberapa tahun belakangan, inisiatif Amerika untuk mengintegrasikan masyarakat Muslim dengan mayoritas orang Filipina hanya menyebarkan perpecahan dalam budaya dan agama. Akibatnya, kerusuhan sosial dan konflik situasi menyebar dan berkembang.

Kaum Muslim tetap terisolasi dari perkembangan yang digalakkan pemerintah di wilayah utara Filipina. Faktanya, gerakan separatis tumbuh dan kebencian antara Kristen dan Muslim dikembangkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement