Rabu 27 Nov 2013 19:01 WIB

Menjamu Tamu Rasulullah

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)
Foto: smileyandwest.ning.com
Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bahrus-Surur Iyunk

Pada suatu sore, Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu muhajirin dari Makkah. Lalu beliau pun memanggil istri-istrinya untuk menjamunya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak mempunyai apa-apa kecuali air.”

Maka, Rasulullah SAW yang saat itu sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya di masjid menawarkan, “Siapakah di antara kalian yang mau menjamu tamuku ini?” Berdirilah seorang sahabat Anshar dan berkata, “Aku, ya Rasulullah.”

Sehabis shalat Isya, sahabat Anshar itu membawa tamu Rasulullah ke rumahnya. Ia lalu berkata kepada istrinya,’’Sayangku, muliakanlah tamu Rasulullah ini.” Istrinya menjawab, “Kakanda, kita tidak memiliki apa-apa selain makanan untuk anak kita yang sedang tidur.’’

Sang suami kemudian menimpali, “Siapkanlah makananmu itu dan nyalakan lampunya. Tidurkanlah kembali anak kita sekiranya mereka nanti merengek minta makan malam.”

Sejenak istrinya menyiapkan makanan, menyalakan lampu di ruang tamu, dan menidurkan anaknya. Lalu, suaminya berdiri seakan hendak memperbaiki lampu, padahal mematikannya. Sang istri yang menunggu komando suaminya selanjutnya mengeluarkan dua mangkok.

Sang suami menemani tamunya makan malam. Sang tamu menikmati bubur yang disiapkan sahabat Anshar. Tamu Rasulullah itu tampak merasa bahagia makan malam ditemani sang tuan rumah. Sahabat tersebut juga bahagia dapat menjamu tamu dengan baik.

Setelah itu, sang tamu kembali ke masjid, bergabung kembali bersama para sahabat yang lain. Dia tidak mengetahui semalam tuan rumah hanya menyendok semangkok air putih yang sengaja dituang istrinya ke dalam mangkok suaminya.

Sementara, ia menyendok semangkok bubur dengan nikmatnya yang (karena) hanya cukup untuknya. Pada pagi harinya, mereka menemui Rasulullah. Belum sempat mereka bercerita atas apa yang mereka lakukan semalam, Rasulullah sudah bersabda.

 “Tadi malam, Allah SWT tertawa dan merasa kagum dengan perbuatan kalian berdua. Lalu Allah SWT menurunkan ayat dalam Surah Al-Hasyr: 9, “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sangat membutuhkan (atas apa yang mereka berikan). Dan siapa yang dipelihara dari sifat kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang beruntung.” (HR Bukhari nomor 3798, dari Abu Hurairah).

Bisa jadi, peristiwa itu tidak akan ditemui lagi pada zaman sekarang, di tengah kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat.  Hal yang menarik dari peristiwa itu, betapa keimanan memancar meski hanya dari semangkok bubur yang dihidangkan.

Suami istri ini tahu betul sabda Rasulullah, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik-baik saja atau diam sama sekali.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

  

Hampir semua ulama sepakat, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman disebabkan banyaknya amal saleh yang dikerjakan seseorang. Sebaliknya, keimanan seseorang bisa berkurang manakala ia banyak berbuat dosa dan maksiat.

Kesalehan tidak sebatas menjalankan ibadah ritual-personal antara manusia dan Tuhannya, seperti shalat, puasa dan haji. Lebih dari itu, kesalehan bisa muncul dari hubungan sosial dan perbuatan baik sesama manusia atau yang sering disebut kesalehan sosial. Wallahu a’lam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement