Sabtu 28 Sep 2013 17:36 WIB

Empat Amalan Berkendaraan

  Suasana terminal angkutan umum Manggarai di Jakarta Selatan, Rabu (4/9).   (Republika/Prayogi)
Suasana terminal angkutan umum Manggarai di Jakarta Selatan, Rabu (4/9). (Republika/Prayogi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh HM Rizal Fadillah

Berkendaraan merupakan aktivitas sehari-hari di masa kini. Sederhana nampaknya. Akan tetapi perjalanan kita sukses atau tidak, selamat atau celaka, bahkan senang atau menderita juga ditentukan oleh kendaraan yang kita tumpangi. 

Ke Bandung dari Jakarta yang semestinya ditempuh tiga jam lewat jalan Tol bisa menjadi empat atau lima jam jika lewat Cianjur Bogor. Belum lagi apakah kendaraan itu sehat atau sakit-sakitan. Mogok di jalan dan diperbaiki dua jam di bengkel bakal memperpanjang waktu tempuh. Ke Surabaya naik pesawat, kereta atau mengendarai mobil bagi beberapa kalangan dapat mempengaruhi kesuksesan bisnis.

Demikian juga di dalam kota kita senantiasa berhubungan dengan kendaraan apakah mobil pribadi, angkutan umum, motor, atau kendaraan lainnya. Hampir keseharian kita bersentuhan dengan alat transportasi yang kita kendarai. Kendaraan ini menjadi sarana untuk mengangkut dari satu tempat ke tempat lain. Memenuhi maksud atau hajat yang hendak dituju. Meskipun kita yang punya motif dan ikhtiar untuk mengendarainya, namun hakekatnya Allah lah yang “mengendalikan” nya.

Agama memiliki kepedulian dan menilai tinggi bepergian dengan kendaraan ini. Allah angkut hambanya di darat dan di laut agar ia mendapat rezeki yang baik-baik (QS Al Israa 70). Alquran menyinggung kendaraan pengangkut masa lalu ada unta, kuda, keledai, bahkan gajah. Seluruhnya disediakan untuk manusia agar terpenuhi hajat kebutuhannya. Kini dengan kendaraan yang lebih beragam dan modern kita pun tetap menempatkannya sebagai karunia Allah yang besar. Untuk itu amalan keagamaan dalam berkendaraan patut untuk mendapat perhatian, yaitu:

Pertama,  menaiki dengan bismillah dan tawakkal kepada Allah. “Bismillahi tawakkaltu alallahi laa haula walaa quwwata illa billah”. Segala hal yang diawali dengan bismillah dan tawakal kepada Allah, insya Allah membawa berkah dan keselamatan.

Kedua, berdoa yang disunnahkan Rasulullah, doa dahsyat mana dinilai sangat penting untuk memayungi perjalanan berkendaraan kita. Unsur-unsur do’a dalam Hadits Riwayat Sya’fiie ini adalah:

-- Setelah bertakbir, membaca “Subhaanal ladzii sakhkharolanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun” (Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini, padahal kami tak kuasa menundukkannya dan kepada Allah lah kami semua dikembalikan). Pernyataan Ini merupakan pengakuan dan kesadaran bahwa Allah yang menggerakkan dan mengendalikan kendaraan tersebut.

-- “Allahumma innaa nas’aluka fie safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal ‘amali maa tardhoo” (Ya Allah kami mohon kepadamu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan serta amal yang diridhoi). Perjalanan yang membawa manfaat. Jangankan keburukan, amal yang sia-sia pun mohon agar dihindarkan.

-- “Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadzaa wa athwi ‘annaa bu’dahu” (Ya Allah mudahkanlah perjalanan ini, dekatkanlah jarak jauhnya). Berkendaraan dapat mengesalkan dan mungkin mengalami berbagai kesulitan, kita mohon agar dimudahkan. Jarak sejauh apapun kiranya dapat dirasakan dekat. Sebab sebaliknya, kadang jarak dekat pun dirasakannya jauh dan mengesalkan. Faktor kemacetan misalnya.

-- “Allahumma antash shoohibu fiis safar wal kholiifatu fiil ahl” (Wahai allah, Engkau adalah sahabat dalam perjalanan dan pengganti dalam keluarga hamba). Nah dengan ini akan tenanglah kita, karena bagaimana tidak, Allah yang menemani perjalanan dan Allah pula yang mengatur, mengurus, dan melindungi keluarga yang ditinggalkan.

-- “Allahumma inni  a’uudzubika min wa’tsaa-is safar, wa ka-abatil mandhor, wa su-il munqolabi fiel maali wal ahl” (Ya Allah aku berlindung dari kesulitan perjalanan, dan performance yang jelek dalam urusan harta dan keluarga sekembalinya nanti). Alangkah bahagianya jika sekembali dari bepergian Allah SWT memberikan banyak harta dan keceriaan keluarga.

Ketiga, selama di perjalanan tentu banyak beristghfar dan berzikir, mengingat Allah. Rasulullah SAW jika berkendaraan berjalan mendaki senantiasa memperbanyak takbir, jika jalan menurun maka Beliau SAW memperbanyak kalimat tasbih. Dengan demikian  akan selalu terjaga dan waspada.

Keempat, Jika telah hampir tiba, kita bermohon agar tempat yang dituju memberi kebaikan dan terlindungi dari berbagai kejelekan yang merusak dan membahayakan. “Allahumma inni as-aluka khoirohaa wa khoiro ahlihaa wa khoiro maa fiihaa. Wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri ahlihaa wa syarri maa fiihaa” (Ya Allah, aku memohon kebaikan, kebaikan penduduknya, dan kebaikan segala sesuatu yang ada di tempat ini. Aku berlindung dari kejelekan, kejelekan penduduknya, dan kejelekan segala sesuatu yang ada di tempat ini).

Dengan amalan yang dituntunkan oleh agama ini, insya Allah berkendaraan kita  akan aman, nyaman, dan menjadi jalan bagi kesuksesan yang akan didapat di depan. Ada dalam pertolongan dan perlindungan Allah. Terlalu banyak terjadi kecelakaan memilukan yang disebabkan oleh faktor kelalaian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement