Senin 15 Apr 2013 17:32 WIB

Rasulullah Seorang Pengusaha Sejati

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)
Foto: smileyandwest.ning.com
Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Lahir sebagai anak yatim dan tak mendapat warisan apa pun, demikian kondisi Rasulullah Muhammad SAW. Namun, hal tersebut tidaklah menjadikannya patang arang menjalani hidup. Sejak kanak-kanak,  Muhammad telah memeras keringat.

Ketika anak-anak seusianya masih bermain, Rasulullah telah menggembala kambing. Padahal, saat itu usianya masih delapan tahun. Dia amat rajin menggembalakan kambing-kambing keluarga baninya.

Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfurry dalam Sirah Nabawiyyah menyebutkan, Rasulullah pernah bersabda,  "Tidaklah seorang nabi pun melainkan ia pernah hidup menggembala kambing." Dari jasa mengembala tersebut, Rasulullah mendapat upah dari si pemilik ternak.

Menggembala dilakoni nabi hingga usia 12 tahun. Saat usia itulah untuk kali pertama  dia belajar berwirausaha. Dia turut serta dalam perjalanan dagang pamannya Abu Thalib ke Syam (sekarang Suriah). Pada perjalanan inilah terjadi sebuah pertemuan dengan rahib Nasrani yang mengenali  Muhammad sebagai bakal utusan Allah terakhir. Kisah pertemuan ini sangat terkenal, mengingat inilah kali pertama orang lain melihat sisi kenabian Muhammad meski ia baru diutus hampir 30 tahun setelahnya.

Kemudian, ketika mencapai usia remaja, kata al-Mubarakfury, Muhammad mulai hidup berdagang bersama as-Saib bin Abus-Saib. Dia merupakan rekanan terbaiknya. Tidak pernah saling curang dan saling berselisih. "Nabi dikenal dalam usahanya dengan setinggi-tingginya nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Inilah karakter beliau di segenap sisi kehidupannya hingga diberi gelar al-Amin," kata AlMubarakfury.

Afzalur Rahman dalam bukunya Muhammad A Trader menyebutkan, pada usia 17 tahun Rasulullah telah  memimpin khalifah dagang hingga ke luar negeri. Tak heran  reputasinya amat cemerlang. Dia sangat dikenal di Syam, Yaman, Yordania, Irak, dan kota perdagangan lain. Tercatat terdapat 17 negara yang pernah dikunjungi dalam ekspedisi perdagangan tersebut. "Sungguh aktivitas perdagangan yang luar biasa. Reputasinya sebagai pedagang yang jujur dan amanah telah disematnya sejak usianya sangat belia," ujarnya.

Menurut Ippho Santosa-Andalus-Khalifah dalam Muhammad sebagai Pedagang, pada usia 25 tahun, Rasulullah sudah menjadi entrepreneur yang kaya raya dan berdagang ke luar negeri tidak kurang dari 18 kali. "Bayangkan saja, jangkauan perdagangan Muhammad muda mencapai Yaman, Syria, Busra, Irak, Yordania, Bahrain, dan simpul perdagangan lainnya di Jazirah Arab," ujarnya.

Pakar Ekonomi Islam UIN Jakarta Agustianto dalam artikelnya "Meneladani Manajemen Bisnis Rasulullah" mengatakan, jauh sebelum Frederick W  Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol mengangkat prinsip manajemen sebagai suatu disiplin ilmu, Nabi Muhammad telah mengimplementasikan  nilai-nilai manajemen dalam kehidupan dan praktik bisnisnya. Rasulullah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlibat di dalamnya.

Dasar-dasar etika dan manajemen bisnis tersebut telah mendapat legitimasi keagamaan setelah dia diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip etika bisnis yang diwariskan semakin mendapat pembenaran akademis di pengujung abad ke-20 atau awal abad ke-21.

"Prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan dan kepuasan konsumen (costumer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif, semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan etika bisnis Muhammad  SAW ketika ia masih muda," ujar Aguatianto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement