REPUBLIKA.CO.ID,
Zikir bukan sekadar melafalkan kalimat mengagungkan Allah. Lebih dari itu, zikir adalah penghayatan, introspeksi diri bahwa manusia memiliki banyak kekurangan.
Ustaz Abdul Syukur dari Majlis Zikir Az-Zikra menjelaskan, zikir bukan sekadar di kerongkongan.
Ada beberapa kemuliaan bagi mereka yang berzikir. Malaikat berzikir adalah hal biasa. Manusia yang berzikir akan mendapatkan kemuliaan luar biasa.
Manusia tidak selamanya taat. Ketika manusia konsisten berzikir, akan diposisikan lebih tinggi dari malaikat. Bahkan, Allah membangga-banggakan manusia seperti itu di hadapan malaikat.
Manusia berzikir akan mendapatkan ketenangan batin. “Sekarang banyak orang stres. Zikir adalah obatnya,” jelas Ustaz Syukur.
Allah menegaskan, zikir adalah penenang hati. Ia menyatakan, zikir sangat dianjurkan untuk dikerjakan di mana saja, ketika berdiri, duduk, dan berbaring. Zikir diibaratkan seperti bangunan suatu negeri. Tanpa zikir, sebuah negeri akan porak poranda bangunannya.
Rasulullah SAW menggambarkan perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah seperti orang yang hidup. Sementara, orang yang tidak berzikir kepada Allah sebagai orang yang mati. (HR Bukhari). “Rumah orang yang berzikir kepada Allah adalah rumah manusia hidup. Dan rumah orang yang tidak berzikir adalah rumah orang mati atau kuburan.”
Seorang mukmin yang senantiasa mengajak orang lain untuk kembali kepada Allah akan sangat memerlukan porsi zikrullah yang lebih daripada porsi seorang Muslim biasa.
Hakikatnya, ia ingin kembali menghidupkan hati mereka yang telah mati. Bagaimana mungkin ia dapat mengemban amanah tersebut, manakala hatinya sendiri redup, remang-remang, atau bahkan juga turut mati dan porak poranda.




