Selasa 18 Dec 2012 09:21 WIB

Ruben Abu Bakr, Menanti Tanda dari Langit (2)

Rep: Afriza Hanifa/ Red: Chairul Akhmad
Ruben Abu Bakr.
Foto: youtube.com
Ruben Abu Bakr.

REPUBLIKA.CO.ID, Ruben pun menuju gereja dan mendapati orang-orang bernyanyi memuji Tuhan dan mengatakan Tuhan Mahapengasih.

Pengalaman pertamanya ke gereja tak serta-merta membuat Ruben puas. Ia terus mempelajari Kristen, termasuk tentang Katolik, Anglikan, Baptisme, imam, pendeta, dan lain sebagainya.

Ia pun memiliki banyak pertanyaan mengenai Kristen dan merasa tak cocok dengan agama ini.

Pencarian pun berlanjut. Ia beralih menyelidiki agama Buddha. Kebetulan, Ruben yang bekerja paruh waktu di pom bensin berteman dengan seorang beragama Buddha. Ia tercengang ketika tahu tuhan Buddha berkepala gajah.

"Mengapa pria memiliki kepala gajah? Dapatkah kita memilih kepala singa? Atau sesuatu yang lebih perkasa?" tanya Ruben kepada temannya.

Ruben menganggapnya tak logis. Ia juga sempat mempelajari agama Mormon. Awalnya, dia menilai, ajaran agama ini sangat baik karena tidak memperbolehkan penganutnya meminum alkohol, kafein, dan cola.

Namun, Ruben tak menemukan kebaikan iman di agama ini. Ia kemudian menyelidiki agama Yahudi. Namun lagi-lagi, Ruben tak menemukan apa yang ia cari.

Merasa upayanya sia-sia, ia lalu menemui seorang temannya untuk berkonsultasi. Si teman yang beragama Kristen pun bertanya, "Bagaimana dengan Islam?"

Ruben pun sontak menolak. ''Apa? Islam? Untuk apa aku menyelidiki agama terorisme? Gila!" seru Ruben.

Masuk masjid

Bagai menelan air ludah. Terbukti, lidah Ruben tak sesuai dengan tubuhnya. Ia kemudian melangkah memasuki masjid ketika suatu kali melewatinya. "Aku tidak tahu apa yang menggerakkanku, yang jelas aku mengenakan sepatu dan langsung masuk begitu saja. Aku pikir, aku akan mati di masjid karena aku satu-satunya orang kulit putih.''

Ruben pun bertemu dengan seorang pria berperawakan besar asal Timur Tengah, berjanggut dan mengenakan gamis. Ruben menggambarkannya mirip para tersangka teroris.

Dan yang mengagetkan, sosok tersebut menyapa sangat ramah, bahkan menyuguhkan sajian layaknya menerima tamu. ''Namanya Abu Hamzah. Aku tak pernah membayangkan akan mendapat perlakuan seperti ini,” kenangnya.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi