Senin 03 Dec 2012 09:37 WIB

Salim bin Ma'qil, Dispensasi Sepersusuan (1)

Rep: Fitria Andayani/ Red: Chairul Akhmad
llustrasi
Foto: wordpress.com
llustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Hanya Salim yang mendapat keistimewaan boleh dijadikan saudara sepersusuan ketika sudah tak lagi menjadi anak-anak.

Sejarah memulai kehidupan Salim bin Ma’qil sebagai budak milik Butsainah binti Ya’ar al-Ansyariyah.

Butsainah berasal dari kelompok wanita yang pertama kali berhijrah dan salah seorang yang utama dari kalangan wanita sahabat Nabi Muhammad. Suami Butsainah bernama Abu Hudzaifah bin Rabi’ah juga merupakan seorang sahabat yang utama dari kelompok sahabat yang pertama kali berhijrah.

Abu Hudzaifah pernah shalat dengan menghadap kedua kiblat, Baitul Maqdis di Yerusalem dan Baitullah di Makkah, serta berhijrah dua kali. Butsainah masuk Islam sebelum Rasulullah masuk ke Darul Arqam.

Ketika Abu Hudzaifah memerdekakan Salim, dia tetap memelihara Salim dan bahkan mengangkatnya sebagai anak.

Hal ini terus berlanjut hingga turun surah al-Ahzab ayat 5 yang berisi perintah Allah agar kaum Muslimin memelihara nasab atau garis keturunan dari anak-anak angkat. Salah satunya dengan memanggil mereka sesuai nama ayah kandung.

“Panggilah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah. Dan, jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan, tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi apa yang disengaja oleh hatimu. Dan, adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Seiring berjalannya waktu, sang anak angkat akhirnya tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Salim tetap bergaul dengan istri dan keluaga Abu Hudzaifah, kondisi yang menimbulkan rasa khawatir pada Abu Hudzaifah.

Melihat keadaan itu, Butsainah pun menemui Rasulullah. Kepada Nabi, Butsainah menceritakan mengenai Salim, anak angkat yang telah tumbuh menjadi dewasa.

“Wahai Rasulullah, Salim telah tumbuh menjadi dewasa dan akalnya matang. Dia suka masuk ke tempat kami. Aku menduga Abu Hudzaifah merasa tidak nyaman dengan hal itu,” kata Butsainah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement