REPUBLIKA.CO.ID, Saad heran melihat teman-temannya itu pergi ke Baitullah dalam rombongan.
Karena, kala itu biasanya untuk beribadah dan tawaf sambil memberi persembahan kepada berhala-berhala di sekitar Ka’bah yang dilakukan sendiri.
Lalu, Ubadah mencoba mencairkan rasa heran sahabatnya itu. “Hai Saad, tujuan kami bukanlah berhala. Kami tak bermaksud mengunjungi Ka’bah. Keberangkatan kami kali itu bertujuan untuk menemui Muhammad.”
“Dia adalah Rasul yang diutus kepada hamba-hamba-Nya untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya keimanan dan penyembahan berhala kepada penyembahan Tuhan yang Mahapemurah.”
Saad merasa tertarik. Ini adalah konsep baru yang mungkin bisa menjelaskan mengenai apa atau siapakah sang pencipta alam ini.
Dia pun bertanya, “Apakah Rasul yang ini dapat menunjukkanku kepada pencipta langit dan bumi, kepada yang mengadakan kehidupan dan kematian?”
Ubadah pun menjelaskan bahwa Rasul yang baru diutus ini dapat menunjukkan kepadanya Tuhan sang pencipta langit dan bumi. “Sebab, dia menerima wahyu dari Tuhannya dan kepadanya telah diturunkan Alquran.”
Begitu mendengar hal tersebut, Saad bergegas pulang untuk mempersiapkan kendaraan dan bekalnya. Lalu, dia bergabung dengan kafilah tersebut. Sampai di tempat tujuan, Rasulullah menyambut rombongan dari Madinah itu.
Rasulullah pun berbicara, membacakan Alquran, dan mendorong kafilah tersebut untuk masuk Islam. “Lindungilah aku dari hal-hal yang kalian juga melindungi kaum wanita dan anak-anakmu dari hal itu,” ujar Rasulullah.
Mendengar perkataan Rasulullah, Saad tersadar, ini adalah untuk pertama kalinya semua pertanyaannya terjawab. Dia telah mengetahui siapa sesungguhnya sang pencipta itu dan memutuskan untuk beriman kepadanya.
“Aku berbuat kepada Rasulullah dan mengucapkan tauhid, tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah,” ikrarnya.




