REPUBLIKA.CO.ID, Selain pada anak-anaknya, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam ke teman-teman sekerjanya.
Ia berusaha mengingatkan mereka untuk mengenakan jilbab dan berhenti merokok.
Selain itu, ia pun mengajak teman-teman sekantornya dan kantor-kantor lainnya yang berada di gedung yang sama untuk mengumpulkan zakat.
Dia bahkan membentuk Yayasan Al-Baroqah gedung Cyber untuk mengelola dana zakat yang terkumpul. "Dana yang terkumpul akan disalurkan kembali kepada mereka yang membutuhkan di internal gedung dan masyarakat sekitar tanpa pandang bulu," ujarnya.
Tak hanya di kantor, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam di kampung halamannya, Bali. "Ini tidak mudah karena masih ada orang yang kadang menjauhi saya, takut 'terkontaminasi'," ujarnya.
Mayura masuk dari bisnis pertanian yang dibangunnya di Negara, Bali. Negara dikenal sebagai daerah kantong Muslim di Pulau Dewata.
"Hal yang utama saya lakukan memang bukan berdakwah namun berbisnis. Namun, ujung-ujungnya juga dakwah. Saya terlebih dahulu ingin mengubah wacana pertanian di sana agar produksi padi semakin meningkat. Keuntungan yang diperoleh akan disisihkan untuk membangun yayasan sosial,'' prinsip Mayura.
Kini, Mayura mulai merintis usaha perjalanan umrah. Dalam hal ini, ia berniat membuat perjalanan umrah yang terjangkau bagi masyarakat. Tak masalah bila nanti margin keuntungan yang diperoleh kecil.
Sebab, niatnya adalah membantu lebih banyak Muslim agar bisa beribadah ke Tanah Suci, bukan mencari keuntungan. ''Jangan dibalik. Ini salah satu bentuk ibadah saya,'' tandasnya.