REPUBLIKA.CO.ID, Di tengah pertemuan tersebut, Ibnu Ummi Maktum datang menghadap Nabi yang sedang bercengkerama dengan para pembesar Quraisy itu.
“Wahai Rasulullah, ajarkan padaku ayat yang diajarkan Allah kepadamu,” kata Ibnu Ummi Maktum.
Tetapi, kali ini Rasulullah justru memalingkan wajahnya dari sahabat yang buta itu. Allah lalu mengingatkan Rasullullah dengan turunnya surah Abasa sebanyak 16 ayat langsung.
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”
“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan, adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera.”
“Sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya, sekali-kali jangan! Sesungguhnya ajaranajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka, barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memerhatikannya…”
Sejak saat itu, Rasulullah memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Bahkan, Nabi memercayakan sejumlah posisi penting untuk diduduki Ibnu Ummi Maktum. Ketika Nabi pergi berperang, sekitar 10 kali beliau meminta Ibnu Ummi Maktum untuk menggantikannya menjadi pemimpin Kota Madinah.
Kecintaan Ibnu Ummi Maktum akan Islam tak sampai di sana saja. Satu hal yang begitu dinginkannnya adalah bisa berjihad. Dia tidak peduli dirinya buta. Dia bahkan percaya bahwa dia bisa bermanfaat dalam medan perang. Tetapi, kesempatan untuk membuktikan hal tersebut tak juga didapatkannya.
Setelah Perang Badar, Allah memerintahkan Rasulullah untuk meningkatkan status para mujahidin dan menyindir mereka yang tidak ikut berperang. “Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk atau tidak turun berperang.”




